Subscribe:
Showing posts with label tentang seseorang. Show all posts
Showing posts with label tentang seseorang. Show all posts

Tuesday, 11 April 2017

#2

Rangga..

Aku mau membencimu 1000 tahun lagi. Sebab mencintaimu terlalu menyakitkan. Dan berpura-pura baik-baik saja itu terlalu menyebalkan.

Kau tau apa yang membuatku sangat terpukul? Bukan soal gadis barumu. Tapi penghianatanmu membuatku kehilangan percaya diri untuk dicintai. Ada trauma yang sulit diutarakan.

Sejujurnya aku sudah lupa sama kamu. Tapi setiap kali aku lihat namamu muncul di media sosial, aku selalu jengkel. Ingin ku blok, tapi nanti aku dibilang kekanakan. Aku kan harus pencitraan meskipun dalam hati tak karuan.

Ratusan purnama sudah berlalu, Rangga.. Dan kita tidak akan bersatu seperti di film yang sesungguhnya hanya rekaan belaka. Tapi kuharap kamu mahfum aku tidak bisa menjadi teman seperti yang dulu. Memaafkan dan merelakan itu sudah. Tapi lukanya memang membuat bekas. Yang diam-diam terasa perih tanpa sebab. Meski ini sudah lewat setahun.

Rangga,
Malam ini aku memang sedang random. Sudah berbulan aku insomnia. Mungkin aku hanya sedang stress mikirin news story untuk naik jabatan. Sebenarnya aku ingin ngobrol dan berdiskusi denganmu. Sebab aku sering mendapat inspirasi dari obrolan-obrolan enggak jelas kita. Tapi itu tidak mungkin meski kita masih dalam dunia yang sama. Karena itu tadi. Aku kan sedang membencimu.

Barangkali nanti di tahun yang ke-1001 aku benar-benar bisa kembali seperti temanmu yang dulu. Saat itu, aku jamin kau tak akan sendirian menertawakan kebodohanku. Sebab aku juga akan ikut.

Friday, 27 May 2016

Antara Aku dan Aldhy

Dear Dek Aldhy,

Hai Dek, barangkali ini adalah surat pertamaku buatmu. Ini juga barangkali pertama kali aku memanggilmu dengan sebutan 'Dek' selama 17 tahun (eh, bener kan umurmu 17 tahun?) ini. Selamat ulang tahun, Dek, tanggal 25 Mei kemarin. Aku sengaja mengucapkan tanggal 26 Mei dan memberikan kado ini tanggal 27 Mei. Biar apa hayo? Biar keren aja.

Ini kadoku untukmu Dek. Lha.. cuma surat Mbak? Iya, Dek. Cuma surat. Bukannya aku tak mau membelikanmu sepatu baru, baju ketje, atau topeng-topengan gak jelas yang pada akhirnya hanya terbuang percuma. Aku maunya memberikan sesuatu dari satu-satunya hal yang bisa kulakukan. Yang tak bisa dibeli dengan uang. Yang tak bisa diklaim kepemilikannya. Yang bikinnya pakai hati. Dan yang jelas, tak akan lekang oleh waktu. Satu-satunya yang bisa aku lakukan, Dek. Cuma nulis. Gimana? So sweet kan Mbakmu ini?

Dalam kesempatan ini aku ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kesudianmu menjadi adikku... Halah, koyok pidato. Tapi itu betul. Terima kasih mau menerima Mbakmu yang jahat ini. Mbak yang entah kenapa selalu dingin dan kasar. Mbak yang pernah menolakmu. Dulu. Dulunya banget. Banget nget nget lho ya....

Sudah jangan sedih. Aku dulu itu masih kecil. Mungkin cemburu karena kamu akhirnya lebih diperhatikan sama Bapak Ibu, jadinya aku jahat sama kamu. Nggak mau ngajak kamu main, dan lain-lain, dan lain-lain. Aku tidak tahu kenapa dulu begitu. Aku yakin ini gara-gara Yasmin! Lho?

Lupakan Yasmin! Kembali ke kado ulang tahunmu.

Dek, kamu kok diam? Ngomong dong.. Kamu anggap aku seperti orang asing saja. Kita serumah, tapi punya kehidupan masing-masing. Kamu nggak pernah curhat ke aku, Dek. Kamu sukanya curhat ke Yasmin. Bikin aku cemburu. Kalau aku curhat ke orang lain, bukan ke kamu, itu wajar. Soalnya kamu masih ingusan. Masa aku nangisin pacarku ke kamu, Dek?

Oke, oke, kalau mau merasa aku tidak adil. Nih, sekarang aku curhat. Tapi pertama-tama, aku ingin tanya, apa yang kamu ingat dari Mbakmu?

Kupikir kamu tidak ingat Dek, karena pada tanggal 25 Mei 1999, saat kamu lahir ke dunia, kamu masih belum bisa melihatku.

Kamu tahu? Waktu itu aku tidak mau ke kamu. Karena aku mintanya adik perempuan. Aku marah saat yang muncul adalah bayi laki-laki yang gede. Iya, kamu dulu gede banget. Tapi aku tidak ingat. Ibu yang bilang itu. Aku hanya berdiri di depan kamar bersalin Bu Yeti, bidan langganan keluarga kita.

Aku tak mau masuk kala itu. Aku melihat Ibu duduk di kasur. Badannya ditutup selimut yang aku lupa warnanya apa. Wajah ibu bahagia. "Sini, Nduk.." kata Ibu. Tangannya melambai menyuruhku masuk. Aku bergeming. Aku tak ingat apa yang terjadi setelah itu karena aku masih kelas 2 SD. Bahkan aku tak ingat pernah menyentuhmu. Hingga dewasalah kamu tanpa ku sadari.

Dek, apa kamu bahagia? Kita sama-sama tahu keluarga kita tidak sempurna. Keberadaanku bukannya menentramkan malah memperburuk tumbuh kembangmu. Masa kecilmu tak pernah kubumbui dengan tawa. Apa yang kamu ingat dari Mbakmu?

Aku ingat pernah menendangmu. Aku tak pernah mau main denganmu. Aku meninggalkanmu bermain sendiri. Aku juga selalu marah saat kamu melakukan kesalahan. Sekecil apapun itu. Aku bahkan tak mau berbagi jajan chiki yang baru kubeli dari Bu Waridi atau tahu goreng kesukaanmu.

Masa kecilmu kubiarkan sendirian. Tapi aku selalu mengolokmu karena tak punya kawan. Aku melihatmu jatuh tapi membiarkanmu bangkit seorang diri. Aku juga meninggalkanmu dan memilih kabur saat keluarga kita nyaris hancur. Kamu yang masih kecil itu, dipaksa jadi dewasa. Ah, jahatnya aku..

Tapi walaupun kamu marah ku begitukan, kamu selalu kembali memanggilku lagi dengan suara besarmu, "Mbak May.." seolah-olah tak ada yang terjadi. Meski kentara sekali kamu ragu meminta apa-apa dariku. Kamu takut aku akan menolak dan marah.

Dek Aldhy, bukankah kita tak pernah bicara segamblang ini saat bertemu? Apakah karena dalam tubuh kita mengalir darah yang sama? Sehingga aksara tak diperlukan untuk menyelesaikan pertengkaran kala lalu. Barangkali..

Tetap saja, aku merasa perlu menyampaikan ini. Mbak sayang kamu, Dek. Jangan ragu untuk mendekat. Aku sudah abai padamu selama 17 tahun, dan tak ingin begitu di sisa umurmu. Di sisa umurku.

Huft... kok pembicaraannya jadi gini. Padahal aku ingin membuat surat cinta yang ceria. Tapi ya sudahlah, yang penting kamu sehat ya.. Sekolahmu lancarkan? Ingat saranku kalau kamu ingin jadi sekeren aku. Belajar tak harus di sekolah, yang penting rajin.

Oh, ya.. Jangan pacaran dulu. Itu tidak baik untuk kesehatan. Lebih baik kamu sering bermimpi. Semakin besar semakin baik. Agar jika mimpi itu hancur, remahannya masih bisa kamu banggakan..

Selamat ulang tahun, adik kecil..

Friday, 12 June 2015

Manusia dan Laki-laki



“Hasil tak akan menghianati proses,” kataku tersenyum. Wajahmu meremang, senja hampir selesai rupanya. Kujabat tanganmu lalu bergegas menuju bus terakhir jurusan Banyuwangi. Aku duduk di sebelah pak tua di bangku nomer dua dari depan. Kulihat keluar jendela. Kau masih bergeming di atas motor yang kau gunakan untuk mengantarku tadi.

Aku mencari-cari matamu. Adakah kau juga menatapku? Aku tak bisa melihat apapun kecuali kesedihan. Apakah kau sedih? Atau lega? Selama 4 tahun yang panjang ini akhirnya aku memutuskan agar kita tak usah bertemu lagi. Sebab pertemuan, bagaimanapun rancangannya hanya akan menambah perih pada luka yang tak pernah ditutup.

Aku lupa kapan tepatnya. Aku hanya ingat bahwa hari itu aku masih menjadi gadismu yang manis. Umur kita nyaris 3 tahun lamanya. Tapi saat itu aku jatuh cinta pada yang lain. Aku jatuh cinta pada kebebasan. Kemudian aku memutuskanmu dengan alasan yang tak pernah kau mengerti.

Iya, kau memang tak pernah mengerti. Sampai umur kita 4 tahun, kau masih menganggapku ada. Bahwa kita masih bisa seperti dulu bukanlah tidak mungkin. Aku juga sama, aku tidak pernah menutup kemungkinan itu. Tapi kita begitu berbeda. Kau memperjuangkanku demi sesuatu yang kau sebut cinta. Aku mempertahankanmu demi sesuatu yang kusebut kemanusiaan. Tapi kau selalu berpikir bahwa aku masih gadismu yang manis.

“Aku serius memilihmu,” katamu suatu hari. Aku menjawab tidak bisa. Kau tanya, “Kurang apa aku memperjuangkanmu selama ini?” Kujawab perjuanganmu yang menjauhkanku dari cintaku yang sesungguhnya. Kebebasan. Tapi kau benar-benar menunjukkan keseriusan dengan meminta orang tuamu untuk melamarku. Aku tak percaya kau senekat itu.

Kau mencintaiku. Aku mencintai kebebasanku. Hubunganku denganmu hanya akan memberiku jarak dengan kebebasan. Aku masih muda. Penuh kekuatan. Pemberontak. Aku tak percaya kita harus menikah dengan orang yang kita cintai. Sebagaimana yang terjadi pada keturunan pertama Adam yang menikah antar saudara kandung. Sebagaimana anak suku Polahi yang menikah dengan ibu bapaknya sendiri lantaran tak ada orang lain lagi di kampungnya. Lantas apakah cinta masih relevan dengan upaya menghasilkan keturunan?

Tapi kita tak pernah lagi sepaham. Bagai bom waktu. Timbunan perdebatan tak kuasa menahan ledaknya. Akhirnya aku yang kalah. Aku tak bisa mempertahankanmu sebagai seorang kawan. Aku harus mengambil langkah tegas agar kau tak semakin tersakiti. “Kita tidak usah berhubungan lagi,” kataku. Sebab jika tidak, aku merasa semakin berdosa. Dan tak ada yang akan bahagia diantara kita.

Lalu kaupun mengiyakan keputusanku. Senja itu kita sepakati menjadi pertemuan terakhir kita. Kita bercerita tentang banyak hal. Tentang teman wanitamu yang sempat kau sembunyikan dariku beberapa waktu lalu. Akhirnya kau berani jujur kepadaku. Bahwa kau sempat dekat dengan seseorang. Aku senang mendengarnya. Barangkali kau tak bisa leluasa sebab perasaanmu masih melihatku sebagai gadismu yang manis.

Tapi kau adalah tipe lelaki yang tak bisa hidup sendirian. Maka dari itulah kau selalu terbuka pada setiap wanita kala kau sedang sepi. Dan kau begitu mudah dijatuhcintai. Apakah kau sedih? Atau lega? Kini kau tak perlu risau dengan kehadiranku.

Dari dalam kaca jendela bus kucari-cari matamu. Adakah kau menatapku? Malam itu kau berkata bahwa kau telah melalui proses yang melelahkan untuk menjadi dirimu yang sekarang. Aku setuju. Kau memang sudah banyak berubah. Sayangnya aku juga berubah. Kau ingin menjadi laki-laki. Aku ingin menjadi manusia.

Tiba-tiba mataku panas. Tiga detik kemudian pipiku sudah basah. Aku terisak-isak tak peduli pada nyanyian sumbang pengamen yang baru naik ke dalam bus. Entah apa yang kutangisi. Barangkali kegagalanku memanusiakanmu. Aku tak pernah benar-benar memutus hubungan dengan siapapun sebelumnya. Apakah aku masih pantas disebut manusia?

Kulihat kau tak juga beranjak. Air mataku semakin deras.


Ingat ya, hasil tak akan menghianati proses

aku mengirim SMS terakhir.

Saturday, 3 January 2015

Nadiya

Ini adalah pertama kalinya aku mencari rumah Nadiya, setelah empat tahun lebih aku kenalan dengannya. Tepatnya di daerah Mangli, Jember. Rumah Nadiya memiliki halaman yang luas, dengan sebuah pohon mangga di samping rumahnya. Pagar dinding putih setinggi dada mengelilinginya. Bendera putih berlambang tanda plus (+) warna hijau berkibar-kibar di atas pringyang menancap vertikal di depan pagar.

Nad, walaupun sebelumnya aku belum pernah mengunjungi rumahmu, aku tidak pernah berharap akan pergi ke rumahmu tanpa bertemu denganmu.

Ibu Nadiya mempersilakan kami masuk ke dalam rumah yang pernah ditinggali Nadiya. Ruang tamu yang biasa berisi meja kursi untuk menerima tamu kini berganti dengan karpet hijau lengkap dengan kue-kue di pusatnya.

Nad, Ibumu mirip sekali denganmu, mungkin kamu akan serupa beliau saat kamu dewasa ya Nad?

Kami bernostalgia saat-saat terakhir Nadiya sebelum pergi. Nadiya sakit sejak seminggu sebelum kepergiannya. Ah, teman macam apa aku ini? Bahkan saat Nadiya masuk rumah sakit aku tidak tahu. Aku sangat menyayangkan tidak sempat menjenguknya saat dia dirawat di rumah sakit. Diagnosa awal Nadiya mengidap sakit lambung, selama lima hari berada di rumah sakit A, Nadiya tak kunjung sembuh. Selanjutnya Nadiya dipindah ke rumah sakit B. Di sanalah baru diketahui bahwa bukan lambung saja yang bermasalah, namun usus Nadiya melintir sehingga menyebabkan lambungnya membengkak. Hanya dua hari Nadiya dirawat di sana. Nadiya wafat saat perjalanan kembali ke rumahnya.

Andai rumah sakit A tidak terlewat mendiagnosa penyakit usus melilitmu, Nad.. Mungkinkah kamu masih bisa membukakan pintu rumahmu saat aku menjengukmu?

Aku masih ingat betul wajah Nadiya yang pucat pasi saat seminar proposalnya. Bu Agustina keras sekali menguji Nadiya kala itu. Tapi bukan Nadiya namanya kalau hanya karena itu dia jadi patah semangat. Dia menjawab semua pertanyaan yang memucat itu dengan cengiran lebar. Kontras sekali dengan raut bu Agustina yang tertarik tegang. Membuat semua audience terkakak kikik. Nadiya adalah teman terkuat sekaligus tercerewet yang aku kenal.

Nad, aku kadang iri, kamu selalu bisa menyegarkan suasana dimanapun kamu berada. Kamu teman yang baik, Nad.

Kabar mengenai tutup umur Nadiya di pagi buta tentu saja mengagetkanku. Aku seperti tidak percaya. Sekali lagi Tuhan memperingatkan kepada manusianya, bahwa mati muda bukan hal yang mustahil, bahwa kita bisa dipanggil kapanpun Tuhan mau. Siap atau tidak. Kita hidup di dunia ini seperti menunggu giliran. Bagaimana kelanjutan hidup kita setelah dipanggil tergantung bagaimana kita memaknai arti hidup selama menunggu itu.

Rasanya aneh, Nad. Kita seumuran, tapi kamu merasakannya lebih dulu. Nad, seperti apa rasanya.. mati?

Nadiya (28-05-1992 - 29-12-2014)

Monday, 24 February 2014

My Supermate

Bermula dari ketika aku membuka twitter pada suatu sore yang gerimis. Ada sebuah mention darimu. Isinya begini "Met @pus_maya kangen tingkat nasional!" 
Mention tersebut dikirim oleh seorang sahabat kecil yang bernama Dewi Mandasari. Teman kecilku yang sekarang sudah jadi besar sejak SMA. Teman-teman biasa memanggilmu Dewi atau De saja. Sebagian memanggilmu dengan Manda. Aku memanggilmu Memet.

Aku juga merindukanmu Met.. Tingkat Internasional malah.. :)

Nama Memet berasal dari kata Supermate. Aku sendiri lupa kapan tepatnya mulai memanggilmu Memet dan sebaliknya, kamu juga memanggilku Memet. Memang sih, lebih bagus nama Maya daripada Memet. Tapi aku tidak suka ketika kamu memanggilku dengan "May" seperti bagaimana kawan-kawan lain memanggilku. Dan sepertinya Dewi, eh Memet, juga merasakan hal yang sama. Kamu suka risih ketika aku memanggilmu dengan "Dew".

Aku ingat bagaimana awal pertemuan kita. Saat itu kita sedang mengikuti Masa Orientasi Siswa (MOS). Kita berada di kelas yang sama, X7. Aku hanya berkenalan sepintas denganmu, tidak bicara banyak. Kesan pertamaku si Memet ini adalah anak yang tomboy dan hyperactiv. Kemudian saat hari kedua itu, kita pergi ke mushola bersama untuk solat dhuhur. Di situlah aku mulai banyak bercerita. Kamu ingat Met? Aku bercerita bagaimana aku bisa keracunan makanan saat hari pertama MOS.

Memang tidak ada yang istimewa dengan masa awal perjumpaan kita, Met. Tapi ketahuilah bahwa diam-diam aku bersyukur saat itu kita bisa berada dalam kelas yang sama, sehingga aku bisa bertemu denganmu. Dan akhirnya kita bisa membuat cerita-cerita istimewa pada tahun-tahun selanjutnya. :)

Sekali lagi aku ingin bilang, aku kangen sekali Met..
Aku kangen curhat-curhatan sama kamu. Aku kangen hujan-hujanan sama kamu. Aku kangen main gelembung sabun sore-sore di sekolah. Aku kangen menjemputmu untuk berangkat les. Aku kangen kabur dari rumah dan tidur di kamar kosmu yang terletak di depan SMA. Aku kangen Kumolo Nimbus yang selalu kita cari di langit biru. Aku kangen dengan semua yang pernah kita lakukan, Met..
Memet n Memet abis hujan-hujanan sore-sore di sekolah
Hari ini aku iseng buka-buka akun facebookmu. Aku melihat foto-fotomu bersama kawan-kawan barumu. Rupanya kamu sudah berani pergi ke tempat-tempat yang jauh ya? hehe. Aku juga Met. Aku juga pernah naik bus sendirian ke tempat yang jauh, menjelajah hutan, dan naik turun gunung bersama kawan-kawan baruku. Aku sudah berani pergi ke belahan bumi lain yang pemandangannya seperti lukisan yang pernah kita buat bersama dulu.

Saat kita bersama, memang sedikit tempat yang sempat kita singgahi. Bukan tempat yang tepat untuk melihat sunset atau tempat yang sejuknya membuat gemigil. Tempat wisata kita adalah ruang kelas yang sunyi untuk kita saling bertukar rahasia, lapangan luas untuk kita berbaring menikmati birunya atap dunia, atau perpustakaan saat jam pelajaran kosong untuk melepas dahaga keingintahuan kita yang dalam. Di tempat-tempat itulah kenangan kita tersebar. Merebak seperti taman bunga abstrak yang hanya kita berdua saja yang mampu mencium baunya. Aku meyakini kuncupnya akan selalu mekar selama kita tidak saling lupa.

Tidak terasa ya, sebentar lagi kita berdua sudah sama-sama lulus kuliah.. Selamat menjadi calon ibu dokter ya, Met. Wujudkanlah mimpi kecil kita berdua dulu untuk menjadi dokter yang peduli kepada orang tidak mampu. hehe. Mungkin kamu sudah lupa ya? Menjadi dokter adalah cita-citaku juga, cita-cita kita. Kemudian pada suatu hari kita pernah berjanji untuk sama-sama menjadi dokter. Yang aku inginkan adalah menjadi dokter di pedalaman untuk membantu suku-suku minoritas yang tidak pernah dipedulikan kesehatannya oleh pemerintah. Aku rela kamu mengolokku sebagai orang yang naif demi cita-cita terabaikan itu. Walaupun sejujurnya aku tak pernah mengabaikan.

Maafkan aku yang tidak bisa mendampingimu, Met. Aku menyesal tidak berusaha dengan keras. Pada titik ini aku iri sekali denganmu. Aku iri denganmu yang gigih menepati janji kita. Walaupun kita berdua sempat gagal pada kesempatan pertama, kamu tidak menyerah pada kesempatan selanjutnya. Berbeda denganku yang pasrah dengan takdir yang malas kuubah. Sekali lagi maafkan aku Met.. karena sudah ingkar janji.

Berbicara tentang mimpi, sepertinya kamulah yang pantas mendapat predikat "orang tergigih" diantara kita berdua. Lihatlah, aku menemukan fotomu duduk bersama Raditya Dika di akun facebookmu. Yaah.. lagi-lagi kamu mengalahkanku Met. Sebagai sesama pecinta "Mbip" aku sangat salut dibalut iri denganmu, kawan kecilku. :')

Memet n Raditya Dika
Met, apa kamu masih suka menulis di buku diari? Dulu kita pernah punya buku diari bersama kan? Kita pernah berikrar untuk membuat kenangan pada buku itu. Apa sekarang masih ada? Kamu jahat Met! Kamu menulisnya seorang diri. Kamu tidak pernah memberikan buku itu kepadaku.

Tapi ya sudahlah, tidak apa-apa. Toh saat itu aku juga tidak suka menulis. hehe
Aku ingat kamu pernah menegurku karena tidak pernah menulis sebagai sie mading dalam kepengurusan takmir masjid. Akhirnya mading masjid itu hanya penuh dengan tulisan-tulisanmu seorang.

Kulihat kamu masih suka menulis, Met. Aku suka membaca blogmu. Dari dulu tulisanmu memang sudah bagus menurutku. Apalagi dibandingkan aku, yang pada saat itu tidak bisa membedakan cerpen dengan isi diari. Kamu ingat nilai yang aku dapat untuk tugas membuat cerpen? Aku tidak. Karena otakku menolak untuk mengingat hal-hal yang tidak indah. Yang kuingat adalah kamu saat itu mendapat nilai 95. Hampir sempurna kawan. Bahasa Indonesia memang pelajaran favoritmu. Sekarang tulisan-tulisanmu sudah semakin bernas ya. Kapan mau buat buku? (idem komennya Pepy pada salah satu tulisanmu) :-D

Hei, bagaimana kabarnya Pepy? Apakah dia masih aneh? Aku juga kangen sekali sama dia. hahaha..
Kamu beruntung, Met. Ada seseorang yang selalu baik dan mendukung kamu. Aku lihat di setiap tulisanmu pasti ada komentar dari Pepy. Bukan mengomentari tentang tulisanmu memang, tapi sekedar memberi semangat. Dengan kata-kata yang lucu, dan mampu membuat bibir pembaca mengulum senyum. Manis sekali..
loh.. kok jadi aku yang excited? hehe

yah.. begitulah Met.. Kamu memang beruntung punya Pepy.. Aku tidak pernah menyangka kalian akan bertahan sejak kelas 2 SMA. Tapi aku akui kalian memang serasi. Sama-sama Makhluk Tuhan yang paling aneh.

Nggak kok Met, kalian itu salah satu pasangan yang membuatku lagi-lagi harus berkata iri. :-)
Aku memang tidak tahu bagaimana kehidupanmu bersama Pepy akhir-akhir ini Met. Jarak dan Waktu yang membuat kita hampir tak pernah bertemu untuk hanya saling mengucap "Meeeet..........."
Aku rindu suara cempreng itu. :')
Tapi aku ingin mengamini bahwa kalian berdua masih baik-baik saja dan akan selalu begitu.
Memet n Pepy saat muda dulu
23 Februari. Hari ini kamu berulang tahun ya Met? Selamat ya sayang... Sebenarnya aku benci tidak mengatakannya langsung kepadamu. Tapi lagi-lagi Jarak dan Waktu memegang kuasa penuh atas perpisahan kita. Keluarga dan teman-temanmu pasti sudah banyak memanjatkan doa baik kepadamu. Maka untuk kali ini biarkanlah aku tidak hanya mendoakanmu seorang. Tapi kita. Aku ingin berdoa agar kita selalu menjadi sahabat yang mesra dunia akhirat. Boleh kan, Met?
Selamat ulang tahun My Supermate..

Salam kangen

Your Mate




Mau berbagi rahasia?
Aku masih suka menyanyikan lagunya Gita Gutawa
yang berjudul "Sahabat Kecilku" 
Seperti yang selalu diam-diam kau bisikkan liriknya padaku

Monday, 9 December 2013

Namanya Erin

Tulisan ini saya tulis pada hari jumat tanggal 6 Desember 2014

Hari ini hari jumat. Jadwal saya ngasisteni anak-anak fisika 2013 praktikum matdas. Rasanya malaaaaas sekali. Sengaja saya datang terlambat. Selain masih ingin melungker di kasur, saya juga tidak siap dengan bahan yang akan saya ajarkan. Materi membuat grafik dalam Matlab ini sedikit susah. Alhasil waktu presentasi tadi ada syntax yang error. Ih... malu sekali rasanya. hehe

Sepulang praktikum saya berniat melanjutkan tidur di sekret ALPHA. Saya lihat jendelanya tutupan dan saya tidak membawa kunci. Biasanya jendela tutup menandakan di sekret tidak ada orang. Jadi saya memutuskan untuk pulang.

Saya kembali ke sekret sekitar jam 14.00. Di sana sudah ada Mas Budi, Erin, dan Hadi. Sesaat setelah saya datang muncul si Ina dan Mbak Tutut. Kemudian Laily juga datang tapi hanya sebentar. Pada saat itu Erin menunjukkan video dirinya saat berpidato Bahasa jepang. Ketika itu Erin masih duduk di bangku SMP. Wah.. Erin keren ya. masih kecil sudah mahir Bahasa Jepang. Mahir menghafal ya Rin? hahaha, bercanda.

Di video itu Erin tidak memakai kacamata. Erin ABG mukanya imut-imut, dan cantik. Tidak banyak berubah ya ternyata sampai sekarang. Dulu dan sekarang sama-sama cantik.  Suaranya sama-sama cempreng. hehe. Tapi kamu hebat bisa lolos seleksi paduan suara mahasiswa. :D

Ini Erin kecil, dibonceng Mas Bayhaqi yang ganteng. hehe

Erin yang saya kenal sekarang sudah besar. Sudah ngerti sama cinta-cintaan dan juga sudah sering galau. Biasanya dia galau karena tidak mendapat ijin keluar dari orang tuanya. Tidak bebas keluar malam. Apalagi nginep di rumah teman. Tapi Erin sempat dua kali menginap di rumah saya. Yang pertama saat liburan semester 2, saat itu saya mengajak Erin pergi ke Teluk Ijo yang luar biasa indahnya. Selanjutnya saat magang di Banyuwangi. Pada kesempatan itu Erin minta diantar ke Ijen. Ah, dasar anak ini. Mencuri-curi kesempatan. hahaha

Hal itu membutuhkan birokrasi yang panjang tentunya. Katanya, jika ingin mendapat ijin seperti itu dia harus berbaik-baik di rumah. Mencuci, memasak, bersih-bersih rumah, dan hal lain untuk membantu ibu. Maklum ya, anak perempuan satu-satunya dari tiga bersaudara. Pasti orang tua tidak ingin anak gadisnya melakukan hal-hal yang buruk. Tapi yang namanya anak muda, selalu saja pintar mencari alasan. Apalagi kalau memang bocahnya suka keluyuran kayak Erin ini. Harus siap jurus seribu alasan agar diberi ijin keluar. Saya kalau di rumah juga begitu kok Rin. :)
Lihat, Erin besar cantik ya.. :)


Saat Erin Terpilih Menjadi Pemimpin Umum ALPHA

Masa jabatan Erin sebagai Pimpinan Umum (PU) sudah hampir habis. Tidak terasa ya, sepertinya baru kemarin dia nangis-nangis di sekret karena menolak menjadi PU. Saat orang lain yang terpilih, biasanya akan merasa senang dan bangga. Tapi tidak dengan Erin, dia malah menangis.

Mungkin statusnya sebagai anak rumahan yang sulit keluar menjadi beban tersendiri baginya. Dulu waktu semester 4 (kalau nggak salah), Erin memang sempat ingin mengundurkan diri dari ALPHA karena peraturan rumahnya yang membuat dia tidak bisa total berorganisasi.

Saat Erin menangis, saya tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya duduk disampingnya. Dan bengong. Maaf ya Rin, tidak bisa menghiburmu saat itu. Saya yakin kamu tidak akan menangis selamanya. Erin yang saya kenal adalah seseorang yang kuat. Terbukti, hingga sekarang dia masih bertahan menjadi PU dan membuat ALPHA semakin eksis. Tidak salah kamu menjadi PU, Rin. Serius. Walaupun terkadang saya sering menganggap kamu kurang tegas menghadapi anggota-anggotamu yang masih tercecer, tapi kamu selalu berhasil membuat sekret kecil kita menjadi ramai dengan celotehan-celotehan yang kadang tidak jelas. haha. Tapi saya menyukainya. :)
Saat PJTD Lapang ALPHA angkatan VI di Rembangan

Ketika Kita Menjadi Teman

maba-maba labil. dari kiri: Cephi, Saya, Erin, Ida
Saya ingat pada suatu hari saat pertama kali kita bersalaman dan saling menyebutkan nama. Saya bilang kalau wajahmu mirip dengan teman saya, dan kamu bertanya "Kenapa ya? Banyak orang yang bilang kalau wajahku mirip dengan seseorang yang mereka kenal?" ya saya mana tau, Rin. Mungkin memang wajahmu yang tidak limited edition seperti wajah saya. hehe

Tiba-tiba saja kita akrab pada suatu sebab yang tidak kita ingat. Persahabatan kita mengalir begitu saja. Apakah karena persamaan karakter kita yang membuat kita dekat? Entahlah Rin. Kadang saya merasa kurang kalau tidak ada kamu karena saking seringnya kita bersama. Tapi ada kalanya saya merasa kita seperti orang asing yang saling menjaga jarak hanya karena sebuah kalimat yang tak sengaja melukai. Sepertinya kita atau hanya saya sudah saling mengerti kalau kata maaf tidak diperlukan di sini. Saya yakin masing-masing dari kita sudah akan memberikannya tanpa saya atau kamu memintanya. Dan setelah itu, semua akan kembali seperti bagaimana kita semula. :)

Kita sering menghabiskan waktu hanya berdua. Kita pergi berdua menerjang hujan demi menonton Breaking Down part 2 di bioskop. Kita pergi karaoke hanya berdua ketika orang lain sibuk dengan tugas-tugasnya. Kita juga suka iseng mencoba-coba baju mahal yang tidak mungkin kita beli di mall dan berfoto dengan menggunakan baju-baju itu. Bahkan kita pergi resto-resto mahal hanya untuk melihat daftar harganya. Menurut orang lain, itu adalah kebiasaan yang memalukan. Tapi entahlah, saya merasa itu adalah hal yang lumrah selama kita yang melakukan. hehe

Perjalanan kita ke Teluk Ijo
Kita berada di puncak Ijen

Karaoke efektif menyembuhkan galau sementara
fitting baju di Matahari dept.store.

Sebentar lagi kamu ulang tahun ya Rin? Tidak terasa ya, ini adalah ulang tahun keempat yang kita lewati bersama. Tahun-tahun sebelumnya saya selalu mengerjai kamu ya? hehe. Kamu sudah pernah merasakan mandi di kolam bakteri. Kamu juga sudah pernah menjadi adonan roti. Kamu ingin dikerjai seperti apa lagi? hehe

Untuk tahun ini, saya janji tidak akan mengerjai kamu. Desember tahun depan, janji ya.. kita berdua sudah tidak lagi menjadi mahasiswa. Jadi ini mungkin akan menjadi tahun terakhir kita melewati pergantian umur bersama sebagai seorang anak yang masih meminta uang kepada orang tua.

Bagaimana kalau kita merayakan ulang tahun bersama sekali lagi? Kebetulan tanggal ulang tahun kita berdekatan kan? Seperti tahun lalu. Saat saya membuatmu jengkel karena menggagalkan surprise yang kamu berikan untuk ulang tahun saya, dan saya menjadi korban atas jebakan yang saya buat sendiri di ulang tahunmu. haha, lucu sekali bagaimana kita saat itu.

Saya ingin ulang tahun kita tahun ini dirayakan dalam senyap, tanpa peringatan. Cukuplah masing-masing dari kita saling mendoakan satu sama lain dan berjanji untuk tidak saling melupakan. Saya berharap pertemuan kita tidak akan menjadi angin yang hanya lewat begitu saja lalu pergi tanpa meninggalkan jejak.

Maaf ya, Rin. Saya tidak pernah memberikanmu sebuah kado yang spesial. Saya hanya berdoa agar kamu bisa memaknai setiap detik dalam kehidupanmu. Bermimpilah yang besar, agar jika mimpi itu hancur, puing-puingnya masih bisa kau banggakan. :)


Merayakan ulang tahun bersama


Selamat ulang tahun cantik :)

Salam sayang

Maya

Monday, 17 June 2013

Sayi

Sore ini mendung, seperti sore-sore lain di Bulan Juni. Mendung memang bukanlah jaminan hari ini akan hujan, tapi mendung selalu datang membawa berita. Entah itu sebuah realita bahwa sekarang sudah memasuki musim hujan, atau hanyalah gosip tentang hujan badai yang mampu memporak-porandakan nurani.

Hari ini sebuah berita dari kawan membuat hatiku turut mendung. Belum sempat aku bertakziah untuk Ibunya yang telah wafat beberapa hari lalu, sang ayah menyusul istri tercintanya. Hati siapa yang tak dirundung hujan, ditinggalkan kedua orang tua dalam waktu yang hampir bersamaan? Sayi Hartiningsih, kawanku dari SMP kini menjadi seorang yatim piatu.

"Oalah yan, wingi sek sempet masang kabel lo karo awakmu. Sepurane yo lek bapakku duwe salah (Oalah yan, kemarin masih sempat memasang kabel bersama kamu. Maafkan bapakku ya kalau punya salah)", Sambutnya kepada kami yang baru tiba di kediamannya. Aku, Alfian, Ipeh, dan adiknya Ipeh melayat bersama-sama karena tertinggal rombongan yang sudah lebih dulu tiba hari sebelumnya. Kami mendapatkan kabar duka satu hari setelah Bapak Sayi meninggal. Rumah Sayi ramai orang bertakziah, keluarga dekat dan jauh berkumpul membagi rasa duka cita. Karpet yang digelar sebagai alas duduk belum lama dilipat. Hanya selang dua minggu Ibu dan Bapak Sayi berpulang ke Rahmatullah.

Sayi, senyumnya masih sama. Entah itu adalah senyum yang selalu menyapaku seperti biasa, atau hanyalah senyum yang diukir menjadi topeng dibalik kegundahan hati. Kesedihan memang masih beredar, tapi tak sedikitpun kemuraman mencoreng wajahmu yang ayu. Hanya ketegaran yang nyata kau tunjukkan kepada kami. Kau ceritakan bagaimana Bapakmu yang masih bugar tiba-tiba merasa sakit di dadanya, kemudian meninggal saat semua orang pergi menunaikan salat Jum'at. Sayi yang kala itu berada di Jember menerima kabar bahwa Bapaknya masuk rumah sakit dan dia harus pulang pada saat itu juga. Betapa terkejutnya ia sesampai di rumah, sebuah gentong air untuk memandikan jenazah berdiri di depan rumahnya. Belum sempat ia melangkah melewati ambang pintu, kakak lelaki bersama istrinya datang memeluknya. Sembari berlinangan air mata, sang kakak meminta maaf karena tidak menunggunya untuk mengubur Bapak. Ya Allah, bahkan Sayi tidak mendapat kesempatan melihat Bapaknya untuk terakhir kali. "Nggak popo wes, meninggale apik to pas dino Jum'at? (tidak apa-apa lah, meninggalnya bagus kan Hari Jum'at?)", katanya penuh ketabahan.

Setelah Ibunya meninggal, Sayi memiliki keinginan untuk mengajak Bapaknya tinggal di Jember bersamanya. Mahasiswi Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember itu tidak tega melihat Bapaknya hidup seorang diri karena masnya sudah memiliki keluarga dan tinggal di Banyuwangi. Tapi Bapak menolak, bahkan Bapak sempat mengajak Sayi berjualan kerupuk kalau Sayi sedang libur kuliah. "Lha iku to saiki kerupuke wes digoreng digae suguhan (lha itu kerupuknya digoreng untuk disuguhkan)", katanya sambil tertawa mengenang tawaran si Bapak. Berulang kali dia meyakinkan dirinya bahwa Bapaknya meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. Tidak setetespun air mata jatuh dari kedua mata sayunya. Mungkin air mata itu sengaja disimpan untuk bermunajat kepada Yang Maha Kuasa. Hanya kepada Allah kami kembali.

"Paling ngene iki bapak ibukku lagi guyonan yo, lho mas, lapo samean neng kene? hahaha (mungkin sekarang bapak ibuku sedang bercanda ya, lho mas, ngapain kamu di sini? hahaha)", lawaknya sambil memperagakan ekspresi Ibunya ketika masih hidup.
 Sayi, sungguh hatiku nelangsa melihatmu setegar itu. Cobaan ini tidaklah mudah bagi orang-orang lemah sepertiku. Aku yang hanya temanmu saja sudah berkaca-kaca mendengar duka yang membanjirimu. Apalagi jika ujian itu menimpaku. Sungguh aku bersyukur engkau diberi kesabaran yang berlebih. Aku yakin, pasti Bapak Ibumu lah yang mengajarimu berlaku ikhlas, hingga kini kau telah rela kedua orang tuamu berkumpul di alam yang lebih kekal.

Kawan, terkadang aku lupa, bahwa hidup hanyalah titipan. Tapi kamu begitu memahami bahwa kita terlahir telanjang. Tanpa hak memiliki apapun di dunia. Bahkan untuk sehelai bulu rambut yang menempel pada tubuh itu bukanlah hak yang bisa dimiliki. Ikhlas membuatmu tegar, dan kuat untuk berjalan. Aku mungkin tak sanggup menanggung beban kehilanganmu, aku hanya sanggup mendoakan Bapak dan Ibumu semoga beliau berdua diterima di sisi-Nya dan diampuni segala dosa. Untuk kamu Sayi, tetaplah bertahan dengan sabar dan ikhlasmu. Semoga Tuhan memberikan kado yang indah sebagai hadiah ketegaranmu. Percayalah kawan, Allah selalu ingin bersama orang-orang yang dikasihi-Nya.



Wednesday, 12 June 2013

Papa In Memoriam

Biasanya, ketika ada kerabat kita yang meninggal, kita selalu teringat dengan kenangan yang telah tertoreh. Walaupun kenangan itu sedikit sekali dan hanya menetap sesaat setelah kematiannya. Pada saat itu kita pasti akan membicarakan tentang dia semasa  hidupnya. Jika orang tersebut meninggal karena sakit, ada sesal di hati karena belum sempat menjenguk dan meminta maaf. Jika seseorang itu meninggal karena sesuatu yang bersifat mendadak seperti kecelakaan, rasa tidak percaya itu selalu muncul. Rasanya baru kemarin kita bercanda dan saling mengolok-olok.

Seperti yang terjadi pada malam minggu (8/6/2013) kemarin. Malam itu saya mendapat kabar dari ibu kalau Papa sudah meninggal. Pakdhe Sungging yang biasa ku panggil Papa itu meninggal hari Jumat lalu di Tuban. Tentu saja hal itu sangat mengejutkan saya. Setahu saya Papa tidak pernah sakit, dan pada akhir-akhir ini Papa masih terlihat sehat. Barangkali Papa terkena serangan jantung. Hingga saat ini itulah asumsi kami perihal kematian Papa yang mendadak itu.

Papa adalah suami pertama dari Budhe Titik yang akrab dipanggil Mama. Papa memang sudah lama meninggalkan keluarga kami. Bahkan saya sudah lupa kapan perjumpaan terakhir saya dengan Papa. Saya tidak kenal betul dengan sosok Papa. Saya hanya ingat Papa adalah seorang laki-laki besar dan memiliki brewok yang lebat. Sepertinya saya masih berada di sekolah TK saat Papa bercerai dengan Mama. Entah apa yang membuat Papa meninggalkan Mama serta Mbak Ika dan Mbak Nimas yang saat itu masih berusia anak-anak. Tapi yang saya tahu, Papa masih memiliki cinta kedua anak gadisnya.

Papa kembali muncul ketika saya baru menginjakkan kaki di bangku kuliah di pertengahan tahun 2010. Kemunculan Papa saya ketahui ketika ada orang yang tiba-tiba mengechatt saya di facebook. Laki-laki itu bernama Dhodho Suwiryo yang tidak lain adalah Papa.
awal percakapan saya dengan papa

Semenjak saat itu Papa aktif menampakkan batang hidungnya di depan kami sekeluarga. Walaupun begitu, Papa belum pernah secara langsung bertemu dengan saya. Tapi sepertinya beliau sering bertemu dengan Mama, Mbak Ika, dan Mbak Nimas. 

Di dunia maya, Papa menjadi orang yang sangat berbeda daripada Papa yang dulu saya kenal. Terlihat lebih modis dan berjiwa muda. Keluarga saya menyebutnya "Papa Gaul". Mungkin saya saja yang dulu tidak terlalu mengenal Papa. Seringkali Papa mengajak saya ngobrol via facebook. Basa-basi dan bercanda tentang masa kecil saya yang kata Papa saya adalah gadis yang lucu dan endel. Papa juga sering menanyakan kabar keluarga kami. Terakhir kali Papa ngechatt saya, beliau memberitahu bahwa lebaran besok Papa mau mampir ke Genteng untuk sungkem sama Mbah Uti. Papa juga sempat menawari saya ingin dibawakan oleh-oleh apa.


 chattingan terakhir saya dengan Papa


Sayang sekali, hari ini masih bulan Juni dan kita belum bertemu lebaran Pap..
Janji Papa untuk pulang membawa oleh-oleh dan sungkem sama Mbah Uti semoga menjadi suatu amalan karena Papa sudah memiliki niat baik.
Maya dan keluarga tidak akan menyalahkan Papa karena Papa tidak berencana pulang lebih awal. Kami ikhlas dengan suratan yang tidak memberi kesempatan pada kita untuk bertatap muka.
Jangan berpikir kalau takdir itu kejam ya Pa..
Takdir itu yang membuat kita belajar bahwa hidup itu bukanlah sebuah permainan yang dibuat oleh Tuhan untuk mempermainkan kita sebagai makhluknya yang fana. Itu memang sudah menjadi peraturan dari Sang Khalik untuk kita patuhi. Percaya pada takdir. Takdir memang bisa dirubah oleh manusia, tapi tidak dengan kematian.
Bukan kematian namanya kalau Malaikat Izrail memberi aba-aba kepada kita kapan ia datang. Papa pasti tahu kan kalau umur manusia itu ibarat buah kelapa. Beberapa buah kelapa akan runtuh dari pohonnya ketika sudah tua dan matang. Tapi ada juga buah kelapa yang masih muda namun sudah runtuh mendahului yang tua. Tidak ada jaminan yang tua akan mati sebelum yang muda.
Sudah ya Pa, ikhlaskan saja umur Papa yang mungkin sudah mencapai setengah abad. Lebaran yang kita nanti sebagai waktu pertemuan kita memang sudah hilang ditutup usiamu. Pastinya nanti akan ada waktu lain untuk kita bisa mengobrol secara langsung.

Mungkin kenangan yang pernah kita ukir bersama masih seujung kuku. Tapi potret Papa tidak akan luntur sampai tiba waktu Maya menghadap Sang Pencipta. Maya hanya ingin meminta maaf kalau dulu Maya sering nakal sama Papa.

Selamat menikmati tidur panjang Papa..
Semoga Tuhan selalu berada di sampingmu, dan doa dari kami akan menyelimutimu. Amin.