Subscribe:
Showing posts with label features. Show all posts
Showing posts with label features. Show all posts

Saturday, 17 September 2016

Kecuekan Menteri Nyentrik

Susi Pudjiastuti baru saja merebahkan diri untuk dipijat ketika mendengar suara sirine meraung-raung. Suaranya panjang dan berulang. Di New York City, sirine panjang itu biasanya pertanda jika ada pertemuan dengan tamu negara-negara di PBB.

Wahyu Muryadi, wartawan Tempo yang ikut Susi melawat ke New York menceritakan saat itu hari Sabtu, 17 September 2016 pukul 20.30 waktu setempat. Rombongan Susi baru tiba di Hotel Andaz, Manhattan, dari Washington DC untuk menerima penghargaan sebagai Pemimpin Penjaga Planet Bumi dari World Wildlife Fund. Menteri Kelautan dan Perikanan itu ditemani anaknya, Nadine Kasier, asisten pribadi Susi, Kepala Humas KKP Lili Pergiwati, dan dua orang wartawan. 


Awalnya Susi biasa saja saat mendengar suara sirine. Ia memerintahkan rombongannya untuk makan malam sementara dia ingin dipijat dulu. Namun, sirine itu tak berhenti hingga beberapa lama. Wahyu curiga itu bukan hanya sekadar ada tamu PBB yang sedang lewat.. "Ada apa ya kok bisingnya nggak habis-habis?" ujar dia, Ahad, 18 September 2016.


Tak lama telepon Susi berdering. Sahabat Susi yang ada di Jakarta menelepon. Wahyu yang tengah menyantap salad dan steak, mengangkat telepon itu. "Ada di mana? hati-hati ada bom di Manhattan," kata Wahyu menirukan si penelepon.


Susi kaget mendengar kabar adanya bom di Manhattan. Saat itu posisinya sudah tengkurap dengan ditutup handuk. Siap diurut. "Waduh bom apalagi? Astaga. Coba cek TV lihat CNN," ujar dia memerintahkan untuk menyalakan televisi.


Saat menonton televisi itulah akhirnya Wahyu tahu ledakan terjadi di persimpangan West 23rd Street dan 6th Avenue. Jaraknya hanya dua kilometer dari hotel mereka menginap. Ada 29 orang yang menjadi korban luka. Namun, belum ada yang tahu apa penyebab ledakan. "Waduh tak jauh dari hotel kita. Alhamdulillah," ujar Susi.


Wahyu sontak berhenti makan. Ia bersiap meluncur ke tempat kejadian perkara. Namun, Susi mencegahnya. "Sampeyan kalau mau meliput habiskan dulu makannya," ujar dia.


Akhirnya Wahyu makan lagi dengan buru-buru. Sebentar kemudian ia ngebut lari ke lokasi kejadian. Meninggalkan Susi yang masih tengkurap sambil matanya memonitor layar TV.

Monday, 1 August 2016

Saat Aku Mengantarmu pada Kematian

Peringatan, cerita ini bukan karya jurnalistik. Anggap saja ini karangan fiksi belaka dengan nama tempat dan tokoh yang sesungguhnya.



Malam itu Karina merasa bukan pendeta. Dalam lorong yang gelap dan sunyi, ia berjalan bagai malaikat pencabut nyawa yang menjemput anaknya untuk diserahkan kepada kematian.

Tak ada kata-kata yang keluar dari bibir Karina Dalega saat menjemput Osmane dari ruang isolasi di penjara Nusa Kambangan pada Kamis malam itu. Hujan deras di luar penjara membuat gigil pada tubuh Osmane yang memakai jaket dan celana jins. Karina memeluknya. (Aku menyangka gigil itu bukan karena hujan yang datang).

Keduanya bertemu pada 2004. Osmane dijebloskan ke Nusa Kambangan setelah ia divonis mati oleh hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 21 Juli 2004. Ia tertangkap tangan menyimpan 2,4 kilogram heroin di kamar nomor 806 Apartemen Eksekutif Panorama Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Karina yang seorang pendeta, dipilih menjadi rohaniwan yang mendampingi Osmane. Maka sejak hari itu, pada pekan keempat setiap bulan, mereka bertemu di gereja Nusa Kambangan. "Dia anak saya, dan mereka menembaknya," katanya.

Karina berada di penjara Nusa Kambangan sejak hari Rabu, 27 Juli 2016 (Osmane dieksekusi Jumat dini hari. Ada adiknya juga di sana tapi aku tak tahu namanya). Osmane berada di ruang isolasi sejak hari itu bersama 13 orang lainnya. Karina dan teman sesama rohaniwannya bertugas mendampingi tahanan hingga detik-detik terakhir.

Karina merasa ada yang tak beres pada pelaksanaan eksekusi gelombang III ini. Semua serba mendadak dan tak siap di segala sisi. Rohaniwan tak banyak diberi waktu untuk mendampingi terpidana. Keluarga yang mestinya punya jatah bertemu dengan terpidana sampai pukul 14.30 WIB, ditarik ke luar pada pukul 12.30 WIB pada hari Kamis. "Jaksa terlihat bingung. Kami sesama rohaniwan juga berbisik-bisik, kok gini ya?" ucapnya.

Teriakan-teriakan mulai terdengar dari ruang isolasi menjelang eksekusi. Karina dan kawan-kawannya semula hanya mendiamkan. Mereka kesal karena tak dibiarkan mendampingi dengan leluasa. "Biar mereka (sipir) sendiri yang menenangkan," ujarnya. Tak lama akhirnya Karina memutuskan untuk bernyanyi. "Agar mereka (terpidana) tahu kami ada di sini."

Pertemuan keduanya berakhir pada malam Karina menjemput Osmane dari ruang isolasi menuju lapangan tempat dilaksanakannya eksekusi mati. Malam itu ia merasa dirinya bukan pendeta, melainkan malaikat pencabut nyawa yang membawa anaknya untuk dibunuh. Ada 14 orang dalam ruangan, tapi hanya 4 yang dijemput. Mereka adalah Freddy Budiman, Humprey Ejike, Michael Titus Igweh, dan Seck Osmane. Kesepuluh orang yang tinggal itu melihat empat kawannya di bawa mati. Sementara yang empat bertanya-tanya kenapa hanya mereka yang akan mati. (Jaksa Agung mengatakan 10 orang lainnya akan dieksekusi pada waktu yang belum ditentukan).

Dari ruang isolasi mereka naik mobil menuju lapangan. Hujan deras membuat mereka basah kuyup saat turun dari mobil. Sesaat ada harapan bahwa eksekusi tak jadi dilaksanakan malam itu. Rupanya polisi sudah menyiapkan tenda untuk tempat eksekusi. Ada semacam kayu serupa jemuran berada menancap di satu sisi lapangan. Kayu itu nantinya yang digunakan untuk mengikat Osmane dengan lengan membentuk siku ke bawah.

Karina diizinkan mengucapkan kata perpisahan sebelum Osmane digiring ke lapangan. Ia menghampiri Osmane yang diborgol bersama tiga orang lainnya. Kepala mereka sudah ditutup kain hitam. "Saya peluk dan cium anak-anak saya satu-satu," ucapnya. Meski menjadi pendamping Osmane, Karina juga dekat dengan terpidana lain karena mereka berdoa dalam gereja yang sama. Kecuali Freddy Budiman karena dia muslim. 

Kenangan pada belasan tahun silam sontak menyeruak. Ia mengenang Osmane sebagai orang yang jahil dan suka memberi es krim kepada anak-anaknya. Sangat jauh dari kesan seorang penjahat yang pantas dihukum mati. Sebab Osmane hanya seorang kurir. (Sampai di sini aku berpikir, sejauh mana manusia bisa menentukan siapa yang pantas dihukum mati? Jika orang itu pantas mati, siapa yang paling pantas untuk membunuhnya?)

Tak banyak permintaan dari Osmane di saat terakhirnya. Karina mengatakan, bagi umat kristiani, kematian adalah keuntungan. Barangkali Osmane hanya meminta keadilan yang pada akhirnya tak pernah ia dapatkan hingga peluru menembus jantungnya.

Kuasa hukum Osmane mengajukan grasi beberapa hari sebelum ia dieksekusi. Keputusan Mahkamah Konstitusi yang membatalkan Pasal 7 ayat 2 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2010 Tentang Grasi bulan lalu membuat pengajuan grasi tak punya batas waktu. 

Pasal 7 ayat 2 itu berbunyi "Permohonan grasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan paling lama dalam jangka waktu 1 (satu) tahun sejak putusan memperoleh kekuatan hukum tetap." MK membatalkan pasal ini melalui sidang pleno pada 15 Juni lalu setelah uji materi yang diajukan oleh terpidana mati Suud Rusli.

Grasi Osmane sudah terdaftar di pengadilan. Namun, hingga ditembak mati, ia tak pernah tahu keputusan grasi itu. Hal yang sama juga terjadi kepada Humprey yang mendaftarkan grasi pada tanggal 25 Juli 2016 di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Padahal, sebelum terpidana ditembak mati, ia harus memegang keputusan presiden yang menyatakan bahwa grasi itu ditolak. 

Pada akhirnya Karina tetap melihat Osmane diikat ke tiang kayu berbentuk jemuran. Kedua lengan Osmane tak bisa diikat telentang sepenuhnya karena kayu yang pendek. Lengan bawahnya menjuntai ke tanah. Karina lalu pergi ke kamar untuk menyiapkan sakramen. Tak begitu lama, ia mendengar bunyi "kraak". Dari suara itu ia tahu anaknya telah berpulang. Sakramen dan penyerahan jiwa pun disiapkan.


Friday, 8 April 2016

Makan Paling Malam Bersama Filep Karma

Filep Karma makan malam di apartemen Andreas Harsono


Andreas Harsono masuk pintu apartemennya, ketika lihat seseorang, seragam pegawai negeri, duduk di meja makannya. Lelaki itu duduk membelakangi pintu. Badannya besar. Jenggotnya lebat dan lebar. Rambutnya diikat. Ia pakai topi. Kulit hitam legam. Di dadanya, bros bendera Papua disematkan.

Filep Karma, pejuang Papua Merdeka paling tenar, ada di rumah Andreas.

Saat itu sudah lewat jam 10 malam di Jakarta. Karma baru tiba dari Jayapura, Rabu, 6 April 2016. Ia diundang Andreas untuk bicara dalam diskusi Human Right Watch pekan depan di Jakarta. Sudah ada sepiring penuh sate Madura di meja makan. Isi piring Karma sudah tinggal separo. Ada beberapa tusuk sate yang belum disantap.

"Pak Karma nggak capek?" Andreas duduk, mengambil satu tusuk sate.

"Nggak," Karma ikut ambil sate. Ibarat kawan lama datang berkunjung.

Mereka makan sate, mengobrol, tertawa sambil melihat beberapa bungkus ikan asar khas Papua, oleh-oleh dari Jayapura. Isteri Andreas, Sapariah Saturi, penggemar ikan asar masak gulai kelapa.

“Ini saya bawakan buat teman-teman di Yayasan Pantau,” kata Karma. 

Mereka memang kawan lama. Andreas bertemu Karma pertama kali dalam penjara Abepura, Desember 2008. Andreas wawancara Karma lantas menulis soal tahanan-tahanan politik Papua termasuk Karma yang dipenjara sejak Desember 2004, vonis 15 tahun penjara, makar terhadap negara Indonesia. Laporan dan esai Andreas tampaknya menarik perhatian Freedom Now, sebuah biro hukum di Washington DC, lantas menawarkan bantuan hukum kepada Karma buat gugat di pengadilan PBB di New York.

Karma menang pada November 2011. Pengadilan PBB berpendapat tafsir terhadap “pasal makar” tak dilakukan secara proporsional oleh pengadilan Indonesia. Namun pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono tak mengindahkan keputusan PBB. Maka Indonesia jadi bulan-bulanan kritik dunia internasional di berbagai forum. Karma baru dibebaskan pemerintahan Presiden Jokowi pada November 2015 dengan remisi. 

"Dia orang Papua yang sangat moderat," kata Andreas. Karma punya banyak teman, dari orang Jawa sampai Cina, dari Kristen sampai Muslim, Buddha, dan banyak lainnya. "Ironisnya, ketika dia protes, sama sekali tanpa kekerasan, dia dipenjara 15 tahun."

Karma memulai perjuangan Papua Merdeka pada 2 Juli 1998. Kala itu ia mengibarkan bendera Papua “Bintang Kejora” di Tower Air di Biak. Di sana, ia memperkenalkan perjuangan model baru rakyat Papua, perdamaian tanpa kekerasan. "Ini perjuangan damai, senjata kita hanya Injil," kata Karma dalam bukunya, Seakan Kitorang Setengah Binatang.

Karma dianggap makar. Pada tanggal 25 Januari 1999 ia dijatuhi hukuman enam setengah tahun penjara. Ia kemudian mengajukan banding dan dibebaskan Presiden Abdurrahman Wahid dengan abolisi, setelah 18 bulan dalam tahanan.

Pada 1 Desember 2004, Filep Karma kembali mengatur acara peringatan deklarasi kemerdekaan Papua. Ia menggelar pertemuan kecil di sebuah lapangan di Abepura. Dengan bersemangat ia berpidato soal kebangsaan Papua.

Aksi itu membuat Filep ditangkap, diadili, dan dinyatakan bersalah oleh pengadilan negeri Abepura. Ia dihukum 15 tahun penjara oleh pengadilan Abepura. Karma naik banding dan kalah terus hingga di Mahkamah Agung Jakarta hingga akhirnya dia banding di New York dan menang.

Andreas menyebut Karma orang yang antik. Karma hanya punya 3 baju. Saat berada di tempat umum, ia selalu memakai seragam pegawai negeri, warna cokelat muda, lengkap dengan atribut bendera Papua. Seragam itu, bagi Karma, bagaikan tanda siaga satu. Jika situasi di Indonesia chaos, ia bisa kapan saja berorasi untuk memperjuangkan kemerdekaan Papua. “Kan tidak mungkin saya minta mereka tunggu saya ganti baju,” kata Karma. Tawanya meledak.

“Tapi chaos itu kan jika … jika Indonesia jadi negara gagal,” kata Andreas.

Gara-gara atribut itu Karma pernah disemprot anak-anaknya. Sebab ia berkeras untuk tetap memakai seragam pegawai negeri saat pernikahan anaknya. "Bubarkan saja kalau tak mau ganti!" kata Karma menirukan anaknya. Dia menyerah dan pakai jas hitam plus dasi. Lagi-lagi tawanya meledak.

Pria berumur 57 tahun ini bilang tahun depan dia akan pensiun. Sebentar lagi Karma pensiun. Andreas bertanya apa yang akan dilakukan setelah ini.

"Paling saya mau jadi penulis," celetuknya.

"Menulis itu bukan paling … menghina saya dong," sahut Andreas. Keduanya tertawa. Jam dinding sudah tengah malam.

Monday, 28 March 2016

Sri Farida

Sri Farida, 54 tahun, dari Palembang ia berangkat ke Jakarta di pagi buta. Ditemani anaknya yang tengah mengandung 7 bulan serta cucunya yang berumur 3 tahun, ia mengadu pada siapa saja yang sudi mendengar.


Saya bertemu Farida dan seorang anak serta seorang cucunya di Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Jakarta Pusat. Mereka bertiga tampak letih, tapi bahagia melihat ada musala yang bisa digunakan untuk merebahkan badan. Kantor berlantai 5 itu kosong di hari Minggu, hanya ada beberapa penjaga yang tinggal di sana.
 
Semalam, Farida dan keluarganya tinggal di gubuk seseorang di pinggir kali. Di pinggir kali mana, ia tak ingat. Bahkan nama orang yang menampungnya itu ia tak tahu. Tapi tak mengapa, sebab Farida baru dua kali menginjak ibu kota. Tak hafal jalan, tak punya uang, tak ada kerabat. Ia datang hanya dengan satu tujuan, untuk mengadu pada siapa saja yang mau mendengar. Farida adalah ibu rumah tangga sekaligus seorang tersangka penggelapan uang.

"Uang yang mana? Harta saya diambil, tapi saya malah mau dikurung!" katanya meraung. Air matanya pecah. Dengan menuding atas bawah kanan kiri, ia menceritakan ketidakadilan yang menimpanya.

Pada bulan Mei 2015, Farida kedatangan tamu yang tak dikenal. Amiruddin namanya. Pria itu mulanya ingin membeli tanah milik kedua bibi Farida. Tanah itu tanah warisan nenek Farida. Rumah kedua bibinya terhalang rumah Farida, maka Amir juga berkeinginan membeli sebagian tanah milik Farida untuk dibuat jalan masuk. Ia meminta lebar 3 meter dan panjang 7 meter.

Farida tergoda. Selain mendapat uang Rp 3,5 juta per meter, ia juga dijanjikan mendapatkan sertifikat tanah atas namanya. Sebab sertifikat rumah ketiganya masih atas nama Saniah, ibu Farida, dan belum dipecah. Namun, bukannya untung, Farida malah dibuat rugi.

Amir tak kunjung membayar uang tanah yang dibelinya. Ia bahkan dianggap berhutang kepada Amir Rp 7 juta untuk membayar tukang yang membangun rumahnya. Kemudian, kata dia, Amir meminta agar seluruh rumah Farida dibongkar. Ia tak percaya, ternyata Amir memalsu surat kuasa yang ditandatangani bibi Farida. Isinya, bahwa Saniah menghibahkan tanahnya kepada Amir. "Bagaimana bisa ada hibah? Ibu saya masih hidup!" ujar Farida.

Farida lapor ke Pak Lurah, di sana ia dipertemukan dengan Amir. Bukannya mendapat pembelaan, ia malah dipaksa menandatangani surat hibah yang diberikan Amir kepadanya sebagai bentuk bantuan. Amir berjanji akan membangunkan ruko untuk Farida beserta dana bantuan sebesar Rp 80 juta. "Untuk rumah saya yang dirampok, apa artinya Rp 80 juta?" katanya dengan nada tinggi.

Sudah jatuh tertimpa tangga, ruko yang dinanti tak kunjung dibangun. Farida malah mendapat surat panggilan polisi pada bulan Juli. Ia dituduh melakukan penggelapan dan penipuan. Farida kini tak hanya seorang ibu rumah tangga, ia juga berstatus tersangka. Mendengar hal itu, ayah Farida syok. Suami Saniah itu pun meninggal kena serangan jantung.

Farida lalu mengadu ke Komnas HAM pada bulan Oktober. Oleh Komnas, ia dianjurkan untuk melaporkan ke Polda setempat. Farida lantas mengajukan pra peradilan. Namun ia ditolak dengan alasan yang menurutnya tak jelas. "Saya tidak tahu kenapa ditolak," katanya.

Kini Farida kembali datang ke Jakarta. Ditemani anaknya yang tengah hamil 7 bulan dan cucunya yang berumur 3 tahun, ia mengadu kepada siapa saja yang mau menolong. Termasuk kepada saya. "Tolonglah dik, muat ini di koran. Biar pejabat di Palembang tahu dengan ketidakadilan ini," ujarnya.

Saya hanya terdiam. Tak tahu harus berbuat apa kala itu. Akhirnya saya hanya berusaha menepuk pundaknya dengan canggung. Anak perempuannya yang bunting merapikan kembali berkas-berkas pengaduan yang tadi ditunjukkan pada saya. Cucunya yang berumur 3 tahun tidur dengan pantat menungging.

Farida adalah ibu rumah tangga yang menyandang status tersangka. Ia naik truk dari kampungnya di Jalan Rawajaya Kelurahan Pahlawan, Kecamatan Kemuning, Palembang, Sumatera Selatan, menuju Pelabuhan Bakauheni pada Jumat subuh. Malamnya, rombongan kecil itu tiba di Pelabuhan Merak. Karena sudah larut, akhirnya mereka lelap di pelabuhan. Malam berikutnya mereka ditampung di Rumah seseorang di pinggir kali, yang Farida tak ingat nama dan lokasinya. Malam ini, mereka tidur beralas sajadah.

"Apakah negara ini hanya untuk orang kaya?" tanya Farida. Ia tak kuasa menahan kesedihan yang mendalam. "Apakah aku harus tinggal di dasar laut yang adalah milik Tuhan?" ia bertanya lagi. Kali ini pipinya basah.

Farida datang jauh ke ibu kota, karena di kampungnya, Pak Lurah dan Pak Polisi lebih mau membela yang kaya. Sempat depresi, Farida ingin bunuh diri. Namun sebelum mati, ia ingin mendapat jawaban dari satu pertanyaannya, "Apa salah saya?"




Jakarta, 27 Maret 2016




Thursday, 11 February 2016

Nasib Malang Penjual Bakso Malang

Jakarta, 11 Februari 2016

Gerobak bakso malang di belakang puri imperium, Setiabudi, Jakarta Selatan terlihat sepi pengunjung. Lapak bakso itu hanya berupa gerobak kecil dengan terpal di atas untuk berteduh dari panas dan hujan. Bangku panjang tanpa meja terpajang di sisi dalam gerobak. Nyaris menempel ke dinding pagar besi puri imperium.

Sekitar pukul 17.00 WIB, aku mendatangi gerobak kayu warna merah bata itu. Seorang laki-laki muda berjalan dari lapak bubur ayam samping gerobak bakso. Amir namanya. "Dibungkus atau makan sini?" ia bertanya kepadaku. "Dibungkus mas," jawabku.

Pemuda umur 17 tahun itu cekatan memasukkan tiga butir bakso, satu tahu putih, satu siomay, dan tiga gorengan. Satu porsi seharga Rp 12 ribu. Tak lupa ia masukkan saos, kecap, dan sambal. Sebungkus bakso malang siap dibawa pulang.

Tiba-tiba, dari dalam pagar puri imperium terdengar suara orang berteriak-teriak. "Woy, kan sudah disuruh pergi! Jangan jual di sini lagi!" Aku terperangah. Empat laki-laki dari dalam pagar puri mendekat. Raut muka mereka marah. Kening berkerut-kerut sambil memaki-maki Amir, si penjual bakso malang.

Abang nasi goreng, abang bubur ayam, hingga abang-abang gojek mendekat ingin tahu. "Jual bakso tikus itu!" kata Satpam yang dari tadi marah-marah. Ia jengkel karena merasa ditipu. Sebab selama ini ia sering jajan bakso di tempat Amir. Dua orang lain mengiyakan bahwa bakso yang dijual Amir berasal dari daging tikus. "Buktinya ramai di facebook," kata mereka.

Bakso dagangan Amir ramai diberitakan sejak seorang pengguna facebook bernama Nacita Putri Sunoto mengunggah foto bakso yang dibelinya. Dikutip dari akun facebooknya Nacita mengaku membeli bakso tepat di belakang puri imperium, Setiabudi. Setelah dibungkus, dia lantas membawa pulang dan menemukan benda berbulu berwarna hitam dari dalam baksonya. Setelah diteliti, ternyata benda tersebut merupakan kaki tikus. Masyarakat menuduh bahwa itu bakso yang dijual Amir.

"Tadi kan sudah ada polisi grebek ke sini, kok masih jual?" kata satpam kepada Amir. Selain menggrebek gerobak Amir, polisi rupanya juga menggrebek rumah pemilik gerobak bakso. Namun, polisi tak menemukan apa-apa. "Sudah dari kemarin beritanya, ya sudah dibuang alat buktinya," kata salah satu supir penghuni imperium.

Amir bergeming. Ia tak mau pindah. "Saya nggak salah kok, saya kan hanya jualan," ujarnya. Gerobak bakso itu adalah milik majikannya, Warino. Amir mengaku tak tahu menahu soal pembuatan baksonya. Ia hanya yakin bosnya tak mungkin berbuat jahat dengan menjual bakso tikus.

Sudah tiga bulan Amir menjajakan bakso di belakang puri. Banyak yang berlangganan bakso Amir, terutama penghuni puri. "Bos-bos sini suka jajan bakso ini," kata satpam. Ia menyayangkan jika sampai rumor yang beredar itu benar.

Amir mengaku baru pertama kali kejadian seperti ini menimpa dirinya. "Padahal sebelumnya tidak pernah ada seperti ini," katanya. Ia mengatakan Warino punya 12 gerobak bakso malang. Semuanya tersebar di seluruh Jakarta Selatan. Ia pun membolehkanku mengembalikan bakso yang terlanjur dibungkus untukku. "Nggak apa mas, saya bawa saja," ucapku.

Sama seperti pemilik akun facebook bernama Nacita, aku juga membawa pulang bakso yang dibelinya dari Amir. Saat dibelah, daging bakso berwarna pink seperti bakso malang pada umumnya. Tak ada kaki tikus yang ditemukan.

Tuesday, 9 February 2016

Kala Ibu Menanggung Rindu

Harapan Sarah, 70 tahun, untuk bertemu anaknya yang hilang kandas. Di depan pintu aula Panti Sosial Bina Insan Cipayung, Jakarta Timur, ia tergugu. Rizal, 39 tahun, anak bungsunya memeluknya. Air matanya pecah saat diberi tahu kakaknya, Abdul, tak ingin bertemu mereka.

Rina, istri Rizal, matanya merah. Sambil memeluk anak balitanya, ia terduduk pasrah. "Tolonglah Bu, kasih tau ini ada ibunya," kata Rizal melobi petugas panti. Petugas panti kebingungan. Sebab yang bersangkutan tak mau ditemui. Kepada petugas, Abdul menitipkan pesan kepada ibunya untuk jangan khawatir karena ia baik-baik saja.

Melihat raut keluarga yang tinggal di Condet, Jakarta Timur itu sedih, petugas merasa iba. Sebab, Sarah sudah dua kali ke sini untuk bertemu anaknya. Namun, Abdul selalu menolak. Akhirnya petugas kembali masuk ke aula untuk membujuk Abdul.

Tak lama, petugas keluar dan memberi tahu bahwa Abdul mau ditemui. "Tapi janji ya Bu, jangan pingsan." Sarah pun masuk ke dalam aula bersama Rizal. Sementara Rani menunggu di luar bersama putrinya yang tertidur.

Sembari menunggu, Rina bercerita. Kakak iparnya bergabung dengan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) sejak di Palu. Ia tinggal di sana sejak kuliah hingga mendapatkan istri. Sekitar lima tahun lalu, Abdul dan keluarganya pindah ke Condet, dekat ibunya.

Saat berada di Jakarta, Abdul suka mengajak keluarganya untuk ikut Gafatar. "Tapi kami masih kuat, nggak ada yang mau ikut," kata Rina. Abdul kerap menceramahi mereka dan mengenalkan ustadz-ustadz ke keluarganya.

Hingga pada pertengahan 2015, Abdul pergi tanpa pamit. Ia membawa istri serta keempat anaknya. Saat dihubungi, ia mengabarkan sudah ada di Kalimantan. Ia hanya berpesan kepada keluarganya agar tidak khawatir.

Selanjutnya, Abdul mulai hilang timbul. Ia hanya memberi kabar saat ada butuhnya saja. "Waktu itu masalah perpanjangan STNK." Malam sebelum pergi, Abdul sempat menitipkan motor ke rumah Rina. "Esoknya tahu-tahu rumahnya dijual dan dia pergi," kata Rina.

Pada hari Sabtu, tanggal 23 Januari 2016, seorang teman keluarga Rizal mengirim foto Abdul sedang berbincang dengan Menteri Sosial Khofifah di Kalimantan Barat. Lalu mereka mendapat informasi bahwa anggota Gafatar yang berada di sana dipulangkan.

Keluarga Rizal lantas mencari informasi keberadaan kakak dan keluarganya. Dari siaran berita, mereka memutuskan untuk mencari di Panti Sosial Bina Insan 2, Ceger, Jakarta Timur. "Kami acak mencari, tidak tahunya benar ada di sini," ujar Rani.

Setelah 15 menit, Sarah keluar dari dalam aula. Raut wajah nenek bercucu 13 itu cerah, tak seperti saat ia datang tadi. "Saya senang akhirnya bisa ketemu setelah berbulan-bulan," katanya dengan senyum mengembang. Namun, ia harus menelan pahit karena ia tak diizinkan membawa pulang anaknya.

Untuk pulang, mereka harus menunggu keputusan dari pemerintah. Meski demikian, Rizal merasa lega karena kakaknya mau bertemu dengan mereka. "Dia bilang jangan khawatir, tunggu ke depannya saja apa kata pemerintah," kata dia sambil berjalan menuju mobilnya.


*) Tulisan ini terbit di koran Tempo edisi Jumat, 26 Januari 2016.

Wednesday, 17 April 2013

Mencari Nasi di Tumpukan Sampah


Nenek dengan kaos kaki berlubang di jempol itu berjalan di atas bukit yang terjal. Karung kumal di tangan kirinya sudah tak muat dijejali apapun. Walaupun begitu, tangan kanannya masih memaksakan tanah perbukitan masuk ke dalam karungnya. Tanah di bukit itu lain dari bukit manapun. Tanahnya tidak digunakan untuk bercocok tanam, dan tidak pula untuk membangun rumah. Bukan tanah biasa yang membentuk bukit itu, melainkan sampah.
Tak jauh dari tempatnya mengambili sampah, puluhan orang mengikuti jejak wanita itu. Membawa karung besar, menerjang kerumunan lalat, dan berperang dengan bau yang membuat hidung micing. Mengais sampah.
Sebut saja pemulung. Profesi yang sudah dilakoni Bu Totok selama 25 tahun. Nenek kelahiran tahun 1952 ini memilih menjadi pemulung karena ajakan sang suami.
“biar bisa bantu-bantu nambah rejeki”, tuturnya sambil memasukkan sampah plastik ke dalam alat kerjanya, karung.

Bukit sampah yang dijadikan sasaran oleh Bu Totok berlokasi di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Pakusari. Di tempat itulah Bu Totok bekerja mulai jam 06.30 WIB hingga jam 13.00 WIB. Hujan dan panas tidak menyurutkan semangat nenek berusia 61 tahun ini untuk mencari sesuap nasi di atas tumpukan sampah.
“kalo panas, enak. Sampah kering. Tapi kalo hujan, ya becek-becekan.. hahaha…”

Di sekitar tempatnya bekerja terdapat rumah-rumah kecil yang berjejer tak beraturan. Berdiri begitu saja di atas tumpukan benda buangan. Tiang rumah terbuat dari kayu atau bambu bekas dan kain perca sebagai atap. Di salah satu rumah itulah Bu Totok meluruskan otot-otot kakinya yang menonjol-nonjol.


Dengan atribut yang sama dengan Bu Totok, sekitar 150 orang lain juga menjadi pemulung di TPA Pakusari. Salah satunya bernama Linda. Linda adalah keponakan Bu Totok. Ia dan suaminya sama-sama menggantungkan hidup dari hasil memulung. Tidak adanya rumah yang dimiliki mengharuskan Linda, suami, dan anak-anaknya tinggal bersama Bu Totok di daerah Jatisari.

Wanita berumur 32 tahun ini sudah menjadi pemulung selama 7 tahun. Dibandingkan dengan Bu Totok, ibu dari dua anak ini memiliki jam terbang yang lebih tinggi. Linda bekerja mulai dari jam 06.00 WIB hingga jam 16.00 WIB.

Walaupun jam kerja Linda lebih banyak daripada Bu Totok, tidak berarti penghasilan Linda juga lebih besar. Pasalnya, penghasilan yang didapatkan pemulung tergantung dari berapa banyak ia mampu mencari sampah yang sejenis? Sampah plastik dan kardus diberi harga Rp 300,00 per kilo.
“liat kondisi sampah. Kalau banyak yang masih bagus, ya saya dapat banyak. Kalau ndak… ya dapatnya dikit”, ujarnya sambil memainkan penutup hidungnya.

Penghasilan Linda rata-rata per hari di TPA Pakusari berkisar antara Rp 5000,00 hingga Rp 7000,00. Minimnya upah yang diterima tidak bisa mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Apalagi ia dan sang suami masih memiliki anak yang harus disekolahkan. Sehingga suaminya harus mencari pekerjaan lain yang bisa ia lakukan. Penggali pasir menjadi pilihannya.
“Uang dari nyampah ini dapetnya dikit, ya ndak cukup dek kalau buat sehari-hari”, kata Linda.

“Apalagi kalau sedang sakit, sehari cuma bisa dapet Rp 3000,00 malah,” Budhenya menimpali.

Kondisi TPA yang kotor dan bau itu menjadi tempat yang ideal bagi tumbuh kembang berbagai penyakit. Bu Totok yang sudah tidak muda lagi itu kini rentan terhadap virus yang beranak pinak di tempatnya mencari nafkah. Sebenarnya puskesmas setempat pernah memberikan imunisasi rutin setiap hari Sabtu untuk para pemulung di TPA Pakusari secara gratis, namun kegiatan itu sudah dihentikan.
“Dulu ada imunisasi dari puskesmas tiap hari Rabu, tapi sekarang sudah ndak pernah lagi”, kenangnya.

Penyakit yang sering diderita oleh Bu Totok adalah sakit flu dan diare. Bagi nenek seusia Bu Totok, penyakit seperti itu tidak bisa disepelekan. Bu Totok mengaku kalau sudah sakit, ia bisa tidak bekerja selama satu minggu. Pendapatan yang didapat untuk makan satu hari hanya setengah dari biasanya karena hanya berasal dari suaminya yang juga pemulung.
“Saya kalau sudah sakit, bisa satu minggu bolos kerja. Jadi penghasilan cuma dari suami”

Di sisi lain dari kumuhnya lahan kerja tersebut, rupanya Kepala TPA Pakusari masih mempedulikan kesejahteraan para pahlawan sampah seperti Bu Totok dan Linda. Adanya THR yang diberikan kepada pemulung merupakan satu usaha untuk menghargai jasa mengolah sampah yang sangat dibutuhkan.
“Dulu waktu pemulung masih sedikit, ini bukan bukit. Tapi gunung sampah. Sekarang sudah ndak sebanyak dulu,” Bu Totok bercerita.
THR yang diberikan berupa sarung, beras sebanyak 2,5 kg, dan sejumlah uang bagi tiap kepala keluarga.

Sebenarnya Bu Totok memiliki dua orang anak. Anak pertamanya perempuan, sudah menikah dan tinggal bersama suaminya. Anak keduanya laki-laki, sudah menikah juga dan sekarang bekerja di bengkel.

Walaupun penghasilan Bu Totok dan suaminya sangat pas-pasan, namun nenek yang kini memiliki 4 cucu itu enggan untuk meminta kepada anak-anaknya. Ia ingin anak-anaknya memiliki tabungan agar bisa menyekolahkan cucu-cucunya sehingga bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Monday, 17 December 2012

malas sekolah


Dua orang anak kecil itu berlarian di depan Masjid Agung Johar, Semarang. Satu per satu orang yang berlalu lalang di sekitar masjid mereka buntuti. Dari jauh terdengar rengekan mereka kepada seorang wanita setengah baya yang hendak masuk ke masjid.

”Buk, minta uangnya buk.. Buat bayar uang sekolah buk..” begitu suaranya.

Anak perempuan yang lebih besar memiliki rambut lurus yang panjang, badan kurus, dan kulit sawo matang. Alifa namanya. Gadis ini lahir di kota Atlas 10 tahun yang lalu. Rumahnya berada di daerah pasar Johar, tepatnya di belakang pos polisi depan Masjid Agung Johar. Ia tinggal bersama bapaknya yang bekerja sebagai kuli angkut barang dan ibunya yang tidak bekerja.

Layaknya seorang pelajar, Alifa yang duduk di kelas 3 SD Al Iman tersebut menghabiskan waktu di sekolah mulai dari pukul 07.00 pagi hingga 12.00 siang. Pulang dari sekolah, ia lantas tidak langsung menunaikan kewajiban belajarnya, melainkan pergi “bekerja” bersama dengan teman-temannya.
Pengemis. Itulah profesi Alifa alih-alih statusnya sebagai pelajar. Pendapatan bapaknya memang pas-pasan. Namun masih bisa membiayai kebutuhan hidup keluarganya dan sekolah Alifa. Lantas, kenapa Alifa mengemis?

“Saya liat ada pengemis tipi-tipi mbak, ya.. saya kepingin dapet uang gitu,” jawabnya polos.

Berbeda dengan Alifa, Lia teman sesama pengemis Alifa tidak bersekolah. Padahal, umur Lia masih 5 tahun. Tapi gadis kecil ini belum merasakan duduk di bangku sekolah. Setiap hari, anak yang tidak bisa baca tulis ini hanya keluyuran di jalan dan mengemis.

Lia tinggal bersama nenek dan pamannya. Ibunya minggat bersama kakek tirinya ke Jakarta. Sedangkan ayahnya yang kerja serabutan tak sanggup untuk mengurus buah hatinya sehingga Lia diserahkan kepada neneknya. Nenek Lia yang tidak bekerja mengandalkan uang hasil ngemis Lia untuk hidup sehari-hari. Pamannya yang masih berumur 10 tahun itupun juga menjadi pengemis seperti keponakannya.

Ari namanya. Dahulu, paman Lia ini pernah mencicipi bangku sekolah walaupun hanya sampai kelas 2 SD. Semenjak ayahnya meninggal dan ibunya yang juga nenek Lia menikah lagi, urusan pendidikan Ari terabaikan. Akhirnya, Ari benar-benar berhenti sekolah ketika ibunya menjanda untuk yang kedua kalinya.

 “Males mbak, lapo sekolah? Ra penting ! (malas mbak, ngapain sekolah? nggak penting !)”, celetuknya ketika ditanya alasannya berhenti sekolah.

Semarang, 8 Desember 2012
(hasil tulisan saat pjtl di Semarang)