Subscribe:

Thursday, 10 December 2020

Pecah

 Dada Ibuku basah. Bukan karena rembesan air susunya, tapi karena air mataku yang pecah. Aku meraung di dalam pelukannya. Setelah sekian tahun hati kami tak saling bicara.


Suara Ibu gemetar. Ia bingung dengan polah anaknya. Tapi lidahku terlalu kelu. Dadaku terlalu nyeri untuk membuat mulutku berkata.


Hanya terdengar sesenggukan dan raungan. Perih di dalam dada Ibuku berhasil kusedot hari itu. Tahun-tahun penuh kekecewaan kepada anaknya yang membangkang.


Ibu, andai ku tahu rasanya sesakit ini, tentu aku tidak akan begitu egois. Pikirku sekelebat. Tapi ternyata aku mampu menahan sakitnya. Tangisku bertambah pecah. Dan aku tetap jadi si antagonis hingga akhir.



Monday, 31 August 2020

Tidak Adil

Rasanya tidak adil. Ketika hanya aku yang selalu merasa cemburu.

Wednesday, 19 August 2020

Ada yang tau?

Ada yang tahu?

Kenapa orang bisa sedih tak berujung

dan lapar tak berkesudahan?

Sunday, 9 August 2020

Menyebalkan

Kau tau apa hal paling menyebalkan di dunia? Itu adalah saat kau telah merencanakan semuanya dengan seseorang, lalu orang itu mewujudkan impian itu tidak bersamamu, tapi dengan orang lain.

Wednesday, 29 July 2020

Di tengah deadline

Di tengah deadline kerja
Aku memikirkan rumah
Aku memikirkanmu yang tak kunjung bisa kumiliki

Di tengah berburu tenggat
Aku sadar tak ada lagi yang kukejar
Aku memutuskan untuk pulang

Monday, 13 July 2020

Kemarau

Katanya ini musim kemarau
Tapi kenapa air di pelupuk mata tak juga kering?

Sunday, 12 July 2020

I'm a mess

It's been a while..

Yesterday I was an odd girl who always overacting
Now I'm an old woman who always overthinking

What's the different?
Nothing..
I'm still a mess

In old day I used to think that writing is amazing
Nowaday I think it is useless thing

I want to do something
But my body is just freezing

O, my old life
You were a mess
But I just want to go back
So that I won't bring regret this much


Sunday, 8 October 2017

Ingatan Meliput Papa

Akhirnya saya kembali berkunjung ke rumah itu. Bangunan mewah di Jalan Wijaya XIII Nomor 19, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Saya bisa melihat beranda lantai duanya dari luar pagar hitam yang tinggi. Mobil patrol yang diparkir di posisi yang selalu sama. Satpam yang bersungut-sungut dan berakting dingin. Hunian itu ditinggali pria tambun bernama Setya Novanto, yang saat saya menulis ini dia sedang menjabat sebagai Ketua DPR.

Pengalaman pertama saya ke rumah itu sangat menyakitkan hati. Maka wajar jika kesan rumah itu membekas hingga kini. Saya dilempar ke sana sini hanya untuk mencari tahu di rumah Pak RT yang bahkan saya tak tahu siapa namanya. What a fuck.

Kisah mengesalkan itu bermula ketika Setya kena kasus papa minta saham Freeport. Ia dipanggil kejaksaan untuk diperiksa namun selalu mangkir. Alasannya, surat tak pernah sampai. Seorang yang baik memberi tahu seorang wartawan Tempo bahwa surat itu sebenarnya sudah sampai di rumah Setya. Pak RT yang mengantarkannya.

Pada awal Januari 2016, Redaktur meminta saya untuk mengkonfirmasi hal itu kepada Setya. Apa benar, Pak RT pernah datang ke rumahnya membawa surat dari kejaksaan? Saya langsung berangkat mencari rumah Setya setelah diberi mandat.

Begitu sampai, saya melihat ada beberapa mobil patrol. Ada sekitar lima atau enam orang yang berkumpul di pos satpam yang luas. Gila, saya pikir. Rakyat aja enggak pernah ada yang punya penjaga sebanyak ini. Lha ini cuma wakil kok pengamanannya heboh banget.

Dengan mengesampingkan rasa nyinyir, saya pun masuk dan bertanya baik-baik kepada para satpam terkait dengan surat kejaksaan yang diduga telah diberikan oleh Pak RT yang masih gelap siapa gerangan. "Saya enggak tahu, saya lagi enggak tugas waktu itu," kata mereka. Kompak.

Aneh, masa enggak jaga bareng-bareng. Saya berdiam sedikit lama di sana sambil merayu agar diizinkan masuk ke rumah. Tentu, ada kemungkinan surat langsung diterima oleh istri, anak, atau pembantu jika semua penjaga mengklaim sedang tidak bertugas. Tapi mereka ngotot kalau surat atau siapapun yang lewat gerbang harus melalui mereka dulu.

Baiklah, saya memilih berbaik sangka. Tapi saya tetap harus mendapat konfirmasi itu. Saya pun bertanya di mana alamat rumah Pak RT. Dan mereka menunjuk alamat di belakang rumah Setya. Saya ikuti arahan itu dan berakhir dengan tidak menemukan apapun.

Saya merasa sedikit beruntung ketika menemukan pos satpam di persimpangan jalan dekat rumah Setya. Ada seorang satpam di sana yang ketika saya tanya, mengaku tidak tahu rumah Pak RT. Saya menghela nafas.

Sesuatu yang menyulitkan, perumahan di Kebayoran Baru itu adalah kawasan elit yang hampir setiap rumah memiliki pagar yang menjulang. Tak ada satu pun penghuni asli yang terlihat berkeliaran. Dan jarak dari rumah ke rumah itu, seperti berjalan melewati tiga rumah. Sangat mustahil bagi saya mengetuk pintu per pintu untuk mengecek di mana rumah Pak RT. Tapi tetap saya lakukan.

Setelah gempor jalan belasan blok, akhirnya saya menemukan rumah RT 01 yang bernama Abimanyu. Ah, leganya. Sayang, Abimanyu sedang tidak berada di rumah. Tapi satpam Abimanyu sangat baik mau memberikan saya nomor telepon majikannya. Saya pun gercep telepon Abimanyu untuk menjalankan titah atasan. Tapi Anda tahu apa yang dia katakan pemirsa? Rumah Setya tidak masuk di RT 01 tetapi masuk di RT 03.

JEDDEEEERRRRRRRR
*bunyi gledek siang bolong*

Hari sudah sore ketika itu. Saya kembali  berjalan luntang lantung untuk mencari Pak RT 03 yang masih belum ketahuan seperti apa wujudnya. Kembali mengetuk satu per satu pintu sambil berharap yang membuka adalah Pak RT 03.

Lalu informasi menyakitkan itu kembali menghujam. Seorang yang pernah kenal dengan Pak RT 03 mengatakan bahwa ketua RT 03 sudah pindah sejak dua tahun lalu bersama seluruh keluarganya.

JEDDEEERRRRRRRR

Di tengah keputusasaan, saya mendapat ilham untuk mencoba mencari tahu rumah Pak RW 03 (saya sudah memastikan rumah Setya masuk di RW 3). Saya pun bergegas ke kelurahan Melawai yang letaknya entah berapa puluh blok dari rumah Setya. Titik mula mission nyaris impossible ini.

Dan pertolongan itu datang. Saya bertemu dengan Lurah Melawai bernama Iwan yang baik hati. Tapi anehnya, Pak Iwan mengaku tidak tahu alamat rumah RW 03 dan tidak punya nomor kontaknya. Ia hanya tahu namanya Roosjono. Dia mengarahkan saya untuk pergi ke posko RW 03 yang letaknya di ujung jalan. Biasanya, Roosjono suka mangkal di sana. Saya pun ke sana dengan diantar petugas yang dipaksa Iwan mengantar saya.

Sampai posko, Roosjono tak ada. Yang ada hanya seorang satpam bernama... saya lupa namanya.. tapi sebut saja Asep. Saya bertanya baik-baik kepada Asep nomor telepon Roosjono. Tapi dia tidak mau.

What?
Demi apa?

Saya jelaskan bahwa saya sudah dapat izin dari lurah untuk minta nomor telepon Roosjono. Tapi dia tetap tidak mau ngasih. Saya tanya alamat pun enggak dikasih. Saya terus terang luar biasa kesal. Seberapa jahat sih tampang saya sampai harus ditolak sedemikian rupa?

Akhirnya saya telepon si lurah di depan Asep. "Pak, Roosjono enggak ada di pos. Ini satpamnya enggak mau ngasih kontaknya," kata saya. Asep terlihat ingin menerkam.

"Siapa nama satpamnya? Kasih teleponnya ke dia," kata Iwan dari seberang telepon.

HP saya beralih ke Asep. Dia terlihat manggut-manggut dan bilang iya iya dengan alis menyatu. Lalu telepon dikembalikan ke saya.

"Lu jangan kaya gitu dong. Mentang-mentang kenal lurah," kata Asep. Anjir, gue dilabrak.
"Ya salah sendiri enggak mau ngasih. Orang saya nanya baik-baik," saya enggak terima.
"Bukannya enggak mau ngasih. Kan emang gue enggak punya,"
"Lah, tadi bilang enggak mau,"
"Wah lu parah lu. Awas lu balik sini," Asep ngedumel sambil nyoret-nyoret kertas yang ditulisi nomor telepon Roosjono. Saya langsung cabut begitu terima kertas itu.

Di situ lah kesalahan saya. Mestinya saya tidak langsung pergi. Saya harus pastikan bahwa nomor yang diberikan Asep adalah benar nomor Roosjono. Benar saja, saat saya coba hubungi nomor itu, yang terdengar adalah, "Nomor yang Anda hubungi, salah!"
What the fffffff........

Sudah pukul 17.00. Saya tak tahu lagi harus ke mana. Di jalan, ada tukang kaki lima yang jualan minum. Saya beli air mineral. Bapak penjual itu tiba-tiba curhat ke saya dan ngomelin saya entah soal apa. "Bapak kok marah-marah saya ke juga sih?" kata saya nyolot karena lagi baper waktu itu. Lalu si bapak tertawa. Saya berakhir curhat soal pencarian saya ke rumah RW 03.

Eee, ndilalah pak kaki lima itu tahu rumah Roosjono. Katanya ada di Jalan Radio Dalam V. Saya yang saat itu ada di daerah Panglima Polim, kata pak penjual, enggak jauh dari lokasi. Bisa jalan kaki. Alhamdulillah...

20 menit kemudian....

Sumpah rumahnya jauh! Sudah magrib dan saya masih nyasar-nyasar nyari rumah si Roosjono. Setiap tanya orang, tidak ada yang kenal. Bahkan orang di pos ronda pun tidak ada yang kenal. Aah, jangan-jangan saya ditipu lagi.. SAD.

Saya hampir menyerah ketika saya berdiri di depan rumah berpagar hitam yang tinggi. Ada seorang tukang galon keliling dengan mobil yang mengantar galon di samping rumah saya berdiri. Iseng saya tanya, "Pak, tahu rumah Pak Roosjono?"
"Pak Jon?"
"Pak RW 03 di Panglima Prolim,"
"Oh, betul. Itu Pak Jon,"
(Pantes enggak ada yang kenal pas nanya Roosjono. Stupid!)
"Itu rumahnya." Dia nunjuk rumah pagar hitam tempat saya berdiri tadi.
Ah.... legaaaaa.

*emot mentari bersinar*

Saya bergegas memencet tombol di pinggir pagar rumah Roosjono. Saat pertama, terdengar suara dari dalam. Tapi saat saya mencet tombol kedua, ketiga, dan seterusnya, tak terdengar apa-apa. Pintu rumah tertutup. Tak ada tanda-tanda ada orang mau bukain pintu. Tapi saya yakin ada orang di dalam. Saya menunggu di luar.

Semenit...   10 menit... 20 menit....

Saya tak kuat lagi.

Saya cari masjid untuk salat magrib dan mengeluh sekeras-kerasnya. Tuhan, kenapa menjadi wartawan itu berat sekali?

Sambil menunggu adzan isya', saya kirim SMS ke Pak Iwan. Dengan sangat berharap Pak Iwan mau membantu mencarikan nomor Roosjono.

Dan doa itu terkabul. Iwan membalas SMS yang berisi kontak Roosjono. Saya telepon si Jon, tidak diangkat. Akhirnya saya kirimi dia SMS. Saya perkenalkan diri dan ceritakan maksud saya menghubunginya.

Hanya menunggu lima menit. Roosjono membalas. Isinya adalah, "Saya sendiri yang membawa surat tersebut ke rumah beliau dan saya serahkan melalui petugas di sana."

Alhamdulillaaaaah.....
Sujud syukur saya menerima balasan itu. Saya tak bisa mendeskripsikan rasa bahagia yang membuncah tak karuan menerima pesan sesingkat itu.

Untuk orang lain, barangkali usaha seperti saya tidak layak mendapat balasan hanya seperti itu. Tapi untuk kami, para jurnalis, konfirmasi, sekecil apapun itu, sangat kami junjung tinggi untuk menyajikan berita, bukan kebohongan.

Pesan Roosjono itu membuktikan bahwa kejaksaan sudah berupaya memanggil Setya. Dan Setya membuat kebohongan publik dengan mengatakan surat itu tak pernah sampai kepadanya. Roosjono adalah saksi yang kuat bahwa surat sudah ia berikan. Sekian.

***

Hari ini, saya kembali ke rumah Setya untuk mengkonfirmasi sejumlah hal terkait korupsi e-KTP, tapi bukan untuk mengkonfirmasi mangkirnya dia dari pemeriksaan KPK. Sebab untuk itu saya sudah diusir-usir dari rumah sakit Siloam yang katanya merawat Setya karena vertigo beberapa waktu lalu. Saya datang karena dia menyulitkan diri untuk ditemui.

Kalau boleh saya suudzon, transparansi memang tidak pernah melekat pada orang-orang yang kena kasus.

Saya tiba di rumah Setya pukul 3 sore. Lagi-lagi saya disambut satpam yang bergaya tak ramah.

"Bapak lagi ke luar," kata satpam yang bernama Alwin.
"Lho, bukannya lagi sakit? Katanya masih pemulihan," saya nanya sok polos.
Alwin diam sebentar. "Lagi berobat kali."
"Masa sih? Tadi saya telpon pengacara katanya Bapak ada di rumah," saya enggak mau nyerah.
"Bapak enggak ada pokoknya."
Malas berdebat, saya kasih saja surat permohonan wawancara kepadanya dan segera pamit. "Nanti saya serahkan kalau ada ajudan," katanya.

Ah, dasar rakyat yang tunduk sama wakilnya. Saya ingin nanya deh, situ e-KTP nya udah jadi belum? Atau masih berupa kertas?

Monday, 25 September 2017

Habis Kata

Selemah-lemahnya iman adalah menulis berita yang membuatku menghabiskan kata-kata dan aku tidak lagi mampu merasakanmu meski hanya sekilas. Tapi jangan salah mengira aku telah lupa. Aku tidak lupa. Bahwa kau masih ada. Dan aku masih orang yang sama. Aku hanya habis kata.

Jakarta, 25 September 2017

Tuesday, 16 May 2017

Penoda Agama yang Sesungguhnya

Sampai hari ini saya masih tidak habis pikir. Saya buntu. Kok bisa Ahok divonis bersalah menodai agama? Emang agama itu makhluk hidup, yang bisa merasa tersinggung pas diejek? Nggak, toh? Lha buktinya yang demo-demo itu bukan agama, tapi orang yang bawa-bawa agama.

Kata seorang teman, saya ini imannya enggak kuat. Makanya pas ada orang yang ngejek agamanya biasa aja. Enggak mau bela agamanya. Menurut dia, kuat lemahnya iman orang diukur dari seberapa besar hatinya tersinggung karena agamanya diejek. Loh, kowe ini manusia opo Tuhan? Kok bisa ngukur kadar imannya orang.

Menodai menurut kamus besar bahasa Indonesia artinya menjadikan ada nodanya; mengotori; mencemarkan; menjelekkan; atau merusak. Terus saya tanya, ketika ada orang yang menjelek-jelekkan agama yang tak dianutnya, apakah lantas membuat agama itu jelek? Ketika ada orang bilang Islam itu agama sesat, kitabnya bohongan, apakah serta merta membuat Islam jadi demikian?

Saya sih, mungkin karena imannya cethek, jadi enggak mikir begitu. Saya, seberapapun orang menghujat, saya akan tetap merasa bahwa Islam adalah agama yang mulia. Agama yang akan saya yakini kebenarannya sampai akhir hayat. Justru yang membuat iman saya rontok terkadang adalah karena para penganut agama itu.

Saya teringat cerita seorang pemuda yang ingin pergi belajar agama Islam ke Madinah. Selama perjalanan, pemuda ini selalu membayangkan bahwa kota dengan mayoritas muslim itu adalah kota yang damai, makmur, dan penuh cahaya Islam. Tapi ketika sampai, ia melihat pengemis bertebaran di seluruh pelosok kota. Preman-preman mangkal di sudut kota minum alkohol. Pencopet berkeliaran. Dan pemandangan yang jauh dari bayangannya selama perjalanan. Si pemuda kecewa luar biasa.

Sambil menahan marah, si pemuda menemui guru agamanya. Ia bertanya, bagaimana bisa kota yang penuh dengan umat muslim ini sangat jauh dari kesan islami? Bagaimana bisa kemungkaran ada di sana sini sedangkan nyaris seluruhnya beragama Islam? Bukankah Islam itu agama yang damai, mensejahterakan, dan mulia? Sang guru meneteskan air mata mendengar cerita si pemuda. Lalu ia berkata, "Nak, sesungguhnya sinar cahaya Islam itu sangat terang. Tapi ia ditutupi oleh ulah umatnya sendiri."

Begitulah sudara, kenapa saya selalu santai ketika ada orang non muslim yang mengolok-olok agama saya. Entah mereka sengaja atau tidak. Sebab yang bisa menjaga terangnya sinar agama adalah si pemeluknya sendiri. Bagi saya, membela agama bukan dengan menghukum orang yang mengolok, tapi membuat mereka keliru menilai agama saya. Kitab saya.

Kembali kepada soal hukuman Ahok. Saya setuju bahwa Ahok sedang meledek. Tapi saya tidak sepakat dia menodai agama. Satu-satunya yang merasa tersinggung adalah sebagian umat Islam. Catat! SEBAGIAN. Jadi menurut saya, yang lagi-lagi cethek iman dan dangkal ilmu ini, Ahok tidak menista agama, tapi ia bersalah menghina sebagian golongan.

Sekali lagi, agama adalah kepercayaan. Menista agama berarti menodai kepercayaan. Masalahnya, tak semua umat merasa kepercayaannya ternoda. Lalu bagaimana implementasi Pasal 156 a KUHP? Apa pasal ini bisa digunakan asal mayoritas umat menyetujui? Nah kalau gitu mestinya voting dong seluruh dunia. Kan, Islam enggak cuma di DKI saja.

Lagian, semua muslim saya kira sudah sepakat bahwa Islam adalah agama yang turun dari langit. Kalau ada yang ngejek-ngejek Islam, kenapa hukumannya enggak dipasrahin sama langit aja sih? Bukannya sok menggurui. Saya hanya yakin Tuhan lebih adil timbang hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

Tuesday, 11 April 2017

#2

Rangga..

Aku mau membencimu 1000 tahun lagi. Sebab mencintaimu terlalu menyakitkan. Dan berpura-pura baik-baik saja itu terlalu menyebalkan.

Kau tau apa yang membuatku sangat terpukul? Bukan soal gadis barumu. Tapi penghianatanmu membuatku kehilangan percaya diri untuk dicintai. Ada trauma yang sulit diutarakan.

Sejujurnya aku sudah lupa sama kamu. Tapi setiap kali aku lihat namamu muncul di media sosial, aku selalu jengkel. Ingin ku blok, tapi nanti aku dibilang kekanakan. Aku kan harus pencitraan meskipun dalam hati tak karuan.

Ratusan purnama sudah berlalu, Rangga.. Dan kita tidak akan bersatu seperti di film yang sesungguhnya hanya rekaan belaka. Tapi kuharap kamu mahfum aku tidak bisa menjadi teman seperti yang dulu. Memaafkan dan merelakan itu sudah. Tapi lukanya memang membuat bekas. Yang diam-diam terasa perih tanpa sebab. Meski ini sudah lewat setahun.

Rangga,
Malam ini aku memang sedang random. Sudah berbulan aku insomnia. Mungkin aku hanya sedang stress mikirin news story untuk naik jabatan. Sebenarnya aku ingin ngobrol dan berdiskusi denganmu. Sebab aku sering mendapat inspirasi dari obrolan-obrolan enggak jelas kita. Tapi itu tidak mungkin meski kita masih dalam dunia yang sama. Karena itu tadi. Aku kan sedang membencimu.

Barangkali nanti di tahun yang ke-1001 aku benar-benar bisa kembali seperti temanmu yang dulu. Saat itu, aku jamin kau tak akan sendirian menertawakan kebodohanku. Sebab aku juga akan ikut.

Friday, 24 March 2017

Geger Sidang E-KTP

Miryam S. Haryani membuat geger seluruh kota. Dalam sidang korupsi pengadaan proyek e-KTP yang digelar Kamis, 23 Maret 2017, bekas anggota Komisi II DPR itu mengaku diancam dan ditekan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi. Merasa stres, dia mengaku membuat keterangan palsu demi menyenangkan penyidik.

Waktu pemeriksaan itu, Miryam berucap pernah diminta bantu untuk membagikan duit suap. Politikus Hanura itu juga menyebut semua nama yang mendapat aliran dana lengkap dengan nominalnya. Ceritanya sistematis, runut, dan detail. Hakim tak percaya bahwa keterangan itu rekayasa. Namun Miryam malah menangis sesenggukan meminta seluruh keterangannya dicabut.

Miryam adalah satu dari 294 saksi yang pernah diperiksa KPK. Tak semua saksi mau bercerita secara detil megakorupsi yang membuat negara rugi Rp 2,3 triliun itu. Tapi Miryam membocorkan semua dalam dokumen pemeriksaannya.

Sidang siang itu pun buyar. Hakim tak tahu harus bertanya apa karena Miryam mengingkari seluruh materi pemeriksaan. Pun demikian dengan kuasa hukum terdakwa. Mereka merasa dirugikan karena Miryam mencabut kesaksian. Jaksa lalu meminta majelis mengizinkan mereka memanggil penyidik untuk dikonfrontir dengan Miryam. Sayangnya, penyidik yang memeriksa Miryam tak ada di tempat saat itu.

Muncul spekulasi bahwa Miryam terpaksa mencabut seluruh keterangannya karena ditekan koleganya di DPR. Sebab nyaris seluruh anggota Komisi II DPR disebut menerima uang bancakan e-KTP. Selain itu, nama besar seperti Setya Novanto juga disebut sebagai dalang. Miryam telah diintervensi. Hanya itu satu-satunya pendapat logis yang bisa diterima saat ini.

Miryam agaknya sudah memperhitungkan resikonya. Jujur atau bohong, penjara sudah menunggu. Hanya saja, jika ia jujur, hukumannya akan ringan. Tapi barangkali ada ancaman yang lebih besar meski ia dihukum setahun dua tahun penjara. Siapa yang tahu keluarganya juga diancam?

Miryam lalu memilih memberi keterangan palsu. Tak apa ia dihukum tujuh tahun penjara karena berbohong. Asal keluarganya selamat. Siapa yang tahu?

Jaksa tak mau berandai-andai siapa yang menekan Miryam. Tapi siapapun dia, agaknya KPK perlu lebih melindungi para saksinya dari intervensi. Sebab sekecil apapun keterangan mereka, akan berguna untuk menyusun mozaik rasuah proyek sejuta umat ini.

Friday, 30 December 2016

Sumbawa Punya Cerita Day 3 Part 2


Lawin, 29 Oktober 2016

Aku baru mau masuk rumah ketika ada suara bapak-bapak yang memanggilku. Ternyata itu suara Pak (sebut saja) Binjai. "Sini mampir sebentar," katanya.

Pak Binjai adalah tetangga Rina. Jadi ceritanya semalam pas aku lagi nonton tivi bareng Rina dan suaminya, ada dua orang tetangga yang datang. Namanya Pak Rahman dan Pak Binjai. Kami ngobrol banyak banget soal kehidupan masyarakat adat di situ.

Pak Rahman ini bisa dibilang tokoh aktivis. Dia sering banget ikut demo buat ngrebut tanah adat masyarakat Cek Bocek. Lahan ulayat mereka ada di Hutan Dhodho. Sudah lama lahan itu dikasih pemerintah ke perusahaan tambang emas Newmont untuk dikelola. Makanya masyarakat adat menolak dan kerap bentrok dengan aparat.

Nah, kalau Pak Binjai, dia ini tipe orang yang enggak mau ribut. Dia enggak mau ikut-ikutan demo buat ngambil hak ulayatnya. Katanya dia sudah kaya. Anaknya punya tambang emas sendiri. Selain Newmont, rakyat ternyata bisa menambang emas sendiri. Mereka menyebutnya tambang rakyat. Tempatnya di Rinti. Tapi alat pertambangan mereka masih sederhana banget. Dan ngebornya juga enggak bisa terlalu dalam. Enggak kaya punya investor yang sekali ngeruk langsung bikin tanah bolong gede.

"Saya pingin punya mantu yang tinggal di Jakarta. Biar saya bisa sering ke Jakarta," kata Pak Binjai tetiba.
"Anak saya hidupnya sudah enak. Kalau kamu mau, besok saya kenalin. Mampir ya ke rumah," kata Pak Binjai lagi. Ternyata dia ngomong sama aku.

Aku enggak berani nolak, tapi juga enggak berani bilang iya. "Ya, namanya jodoh kan siapa yang tahu," katanya maksa banget. Aku akhirnya cuma ketawa aja.

Pembicaraan berlanjut dengan Pak Binjai yang menginterogasi latar belakangku. Mulai dari soal kuliah, kerjaan, sampai keluarga dia tanyain. Udah kaya ditanya-tanya sama calon mertua gitu. Yang lain cuma ngikik-ngikik ngeliat aku salah tingkah ditanya macem-macem sama Pak Binjai.

Setelah beberapa lama akhirnya aku diselamatkan oleh Pak Rahman yang kepo sama Beauw, si cowok bule yang menyedot perhatian orang sekampung. Kata dia, selama ini baru Beauw satu-satunya bule yang pernah datang ke sana. Sontak lah, orang-orang udah pada kaya lihat alien. Kemanapun bule pergi, selalu ada mata yang enggak kedip. Dia pun jadi rebutan warga yang minta poto bareng.

"Dia dari mana?" tanya Rina.
"Dari Australia, dia relawan di AMAN."
"Oh, dari Australia.. Saya kira dari bule," kata Pak Rahman.
Hahaha
"Iya, dia bule dari Australia."
"Oooh.." Pak Rahman mukanya lempeng.
"Maklum ya, orang desa," kata Rina kepadaku sambil ngakak.

Malam sudah makin larut. Karena besoknya masih banyak agenda, aku pamit untuk tidur duluan. Sebelum masuk kamar, Pak Binjai kode-kodein aku biar besok datang ke rumahnya. "Anak saya besok ada di rumah seharian," katanya.

Jadi saat dia manggil aku pagi itu, aku yakin banget anak Pak Binjai sudah nungguin di rumahnya. Wah, jangan-jangan dia serius. "Sebentar ya, Pak. Mandi dulu!" kataku sambil nyelonong masuk rumah. Selesai mandi, aku lari ke balai tempat konferensi nasional berlangsung.



Konferensi nasional yang sebelumnya dimulai di Sumbawa dilanjutkan hari ini. Bertempat di balai pertemuan, semua advokat AMAN dan kepala-kepala suku adat berkumpul pagi itu. Mereka membahas masalah sengketa lahan di wilayah adat masing-masing.

Aku, Lusi, Mbak Titi, dan Fathul, enggak ikut acara sampai kelar. Kami punya acara sendiri dengan menculik salah satu anggota advokasi AMAN, Febri Anindita untuk diwawancara. Kami lalu keliling untuk wawancara masyarakat dan menunggu sampai waktu istirahat untuk bisa wawancara kepala suku.

Sorenya, kami berempat jalan-jalan keliling desa. Karena aku harus salat ashar dulu, akhirnya aku terpisah dari rombongan. Aku pun menjelajah desa seorang diri dan berakhir dengan nyasar.

Awalnya aku mau nyari Lusi cs. Tapi kemudian aku memutuskan untuk mencari satu-satunya sekolah dasar yang ada di Lawin. Aku tanya ke sana ke mari di mana letak SD. Kupikir aku sudah menuju ke arah yang tepat sampai aku menyadari bahwa aku tersesat. Aku jalan keluar permukiman dan terbelasuk ke sungai pinggiran hutan.

Agak ngeri sih. Soalnya waktu sudah hampir senja. Langitnya gelap. Enggak mau terjadi hal-hal yang ajaib, aku memutuskan balik kanan.

Di jalan pulang yang makin nyasar, aku ketemu dengan seorang bapak bernama Sopan. Dia baik hati banget karena mau ngantar aku ke lokasi SD Negeri Lawin. Mungkin dia kasihan.

Sampai di SD, sepi banget. Iya lah, sudah sore. SD Negeri Lawin bukan cuma satu-satunya sekolah dasar yang ada di Cek Bocek, melainkan juga satu-satunya sekolah. Jadi kalau mereka mau lanjut ke SMP, mereka harus jalan jauh ke Ropang. Mau lanjut SMA juga harus jalan lebih jauh lagi.

SD Negeri Lawin

Puas lihat-lihat kondisi sekolah, kami pulang. Sepanjang jalan Pak Sopan banyak cerita soal kerjaannya. Dia ternyata juga salah satu penambang emas di tambang rakyat Rinti. Di kelompoknya ada 10 orang penambang dalam satu lubang. Dalam seminggu penghasilannya bisa sampai Rp 30 juta. Woooow. Daaeeebak. Padahal mereka cuma make alat bor seadanya loh. Lubang yang ditinggalin juga enggak dalem-dalem banget. Gimana dengan investor yang alatnya udah canggih? Pasti dahsyat pendapatannya.

"Pak, di sini ada kuda enggak?" tanyaku tetiba.
"Saya punya kuda,"
"Ada di mana?"
"Di sawah,"
"Lihaaaaaat,"
"Ayok saya antar,"
Yeeaay!

Sawah yang dimaksud Pak Sopan enggak jauh dari SD. Di sana ada banyak banget kuda yang dibiarkan berkeliaran tanpa tali. Kuda-kuda itu semua peliharaan warga. "Enggak takut lari, Pak?"
"Enggak, kalau mereka nyasar ke hutan, pasti ada yang ngantar pulang," katanya mantap.

Pak Sopan mendekati kuda betina warna putih yang dia kasih nama Manis. Kelihatannya jinak. Lalu dia menyuruhku untuk ngelus-ngelus surainya. Lembut.
"Boleh naik enggak?" semakin ngelunjak.

Laki-laki berusia 40 tahun yang ngaku-ngaku masih 29 tahun itu lalu memegangi leher si Manis biar aku bisa naik. Karena enggak ada pelana dan tali, aku enggak berani jalan jauh-jauh. Takut jatuh.

Naik kudaaaa
Hari makin gelap. Aku ngajak Pak Sopan untuk pulang. Tapi di tengah jalan, aku belok mampir ke rumah Pak Kepala Dusun Jampek M. Yasin. Setelahnya, aku ketemu dengan Febri Anindita dan orang-orang AMAN. Ternyata konferensi sedang istirahat. Mereka ngajak aku makan malam di samping balai adat.

Sekitar pukul 19.00 WITA, aku pulang ke rumah Rina. Aku lihat orang-orang pada ngumpul di teras. "Ini dia.... Akhirnya pulang."
"Kamu ke mana aja, Maya? Kami mengkhawatirkanmu,"
"Kami cari kamu ke mana-mana enggak ada. Nyasar pasti anak ini,"
"Aku habis naik kuda. Hehehe."
Muka mereka langsung sebel. Haha.

Rina sudah menyiapkan makan malam untuk kami. Lusi, Mbak Titi, dan Bang Fathul juga belum makan gara-gara nunggu aku. Aku enggak berani bilang sudah makan bareng Febri. Jadi aku ikut mereka makan lagi.

Sebenarnya aku masih punya waktu semalam lagi di Lawin. Tapi karena pesawat ke Lombok terbangnya siang, Mbak Titi enggak mau ambil resiko kita ketinggalan pesawat (trauma drama Lusi). Maklum ya jalan dari Lawin ke Sumbawa lama banget. Takutnya subuh kita nggak ada yang bangun.

Akhirnya dengan sedih kami pamitan malam itu juga. Kami berempat balik ke Sumbawa diantar pakai Hardtop punya penduduk. Kembali melewati jalan terjal dan berulang kali merasakan sensasi mobil mundur. Bedanya adalah perjalanan pulang kami dilakukan saat malam. Saat gelap dan kabut semakin pekat.




Baca juga
Sumbawa Punya Cerita Day 1
Sumbawa Punya Cerita Day 2 Part 1
Sumbawa Punya Cerita Day 2 Part 2
Sumbawa Punya Cerita Day 3 Part 1



Thursday, 29 December 2016

Sumbawa Punya Cerita Day 3 Part 1

Lawin, 29 Oktober 2016

Kabut masih tebal ketika aku keluar rumah pagi itu. Rina terlihat membawa handuk dan menenteng ember. Rina itu pemilik rumah yang aku tinggali selama di Lawin. Umurnya 30 tahun. Semalam dia janji mau ngajak aku mandi di sungai.

Aku lihat jam masih pukul 05.00. Mbak Titi dan Lusi masih pulas. Pagi itu dingin banget. Emang paling enak buat ngelungker di kasur. Tapi kabutnya asik. Sayang kalau dilewatin dengan tidur.

Aku gemigil di pekarangan. Padahal sudah pakai jaket gunung. "Enggak jadi mandi, ya. Hehehe," ujarku pada Rina.

Meski urung mandi, aku tetap ikut Rina ke sungai. Aku pingin lihat seberapa arif kehidupan masyarakat adat Cek Bocek Selesek Rensuri. Buatku, kebersihan sungai adalah indikator kearifan sebuah peradaban.

Sungai yang kami tuju enggak jauh dari rumah Rina. Sebelum turun ke sungai, kami melewati kuburan tua yang ditumbuhi rumput tinggi. Di seberangnya, ada tumpukan sampah. Tak sampai menggunung sih, tapi mengganggu pemandangan. Anjing-anjing berkeliaran.

Sungai itu punya dua air mancur yang dimanfaatin masyarakat untuk mengambil air. Setiap pagi, para perempuan berdatangan ke sumber air dengan membawa ember masing-masing. Air itulah yang mereka pakai buat masak, minum, dan kebutuhan sehari-hari. "Kalau pakai air kran, kotor," kata Rina.

Air pancurannya seger banget dan bisa langsung diminum tanpa dimasak. Selain buat kebutuhan sehari-hari, kita boleh mandi di sana. Aku sebenernya pingin njebur ke kali. Tapi aku lagi nggak bawa selendang. Kan percuma aku mandi di kali kalau nggak ada yang nyuri selendangku. Hahaha.

Setelah akhirnya cuma kecipak-kecipuk di kali, aku balik lagi ke rumah sama Rina. Rina bawa seember penuh air yang bakalan dibuat masak seharian ini. Cara bawanya nggak ditenteng loh, tapi disunggi di atas kepala. Seember penuh air di atas kepala! Bayangin deh, bayangin!

Karena penasaran, aku coba pinjem satu ember punya orang. Sama kaya Rina, aku taruh handuk di atas kepala dulu baru di atasnya ditimpa ember. Baru selangkah jalan, ember udah bubar barisan. Padahal isi embernya kosong.

Usut punya usut, ternyata di Cek Bocek bocah usia 7 tahun sudah diajarin buat ambil air dan naruh ember di kepala. Jadi mereka udah bisa nyunggi ember sejak masih ingusan. Ya panteslah kalau aku belum bisa. Kan baru sekali diajarin.

Sampai rumah Rina, Mbak Titi dan Lusi sudah bangun. Kami pun jalan-jalan menyusuri Desa Lawin yang damai.

Antre ambil air
Rina nyunggi ember penuh air
Anjing di kuburan tua


Ada 300 kepala keluarga yang tinggal di Lawin. Meski sudah ada masyarakat yang tinggal di rumah yang terbuat dari batu bata, kebanyakan masyarakat masih tinggal di rumah panggung dari kayu. Ada beberapa dari mereka yang tak fasih berbahasa Indonesia. Fasih pun, logat daerahnya kental sekali.

Di sepanjang penjuru Desa, aku pasti ketemu anjing. Masyarakat sini memelihara anjing untuk diajak berburu rusa ke hutan.


"Mak.. Mak..."
Kami bertiga mencari asal suara. Ternyata Dian yang memanggil-manggil Mbak Titi dari atas rumah panggung. Dian tinggal bareng Beauw ternyata. Btw kalau ada yang nyangka bahwa Dian itu cewek. Maaf sekali anda salah sedikit. Iya, sedikit. Dia adalah laki! Jadi jangan salah paham saat aku bilang dia tinggal bareng sama Beauw yang obviously seorang cowok bule.

Si Dian lagi makan jagung dan ngopi di teras rumah panggung. Aku, Mbak Titi, dan Lusi, tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk ikut nimbrung.

Saya lupa siapa nama pemilik rumah itu. Saya inget dia punya anak cewek cakep banget. Dan mereka baik hati karena pas kami bertiga dateng mereka nambahin lagi jagung putih yang rasanya asin tapi enak di piring.


Nongkrong di rumah panggung. In frame: Dian, Lusi, Mbak Titi, Beauw

Jagung putih asin tapi enak
Setelah puas ngopi-ngopi, kami bertiga pamit balik ke rumah karena sebentar lagi konferensi akan mulai lagi. Pas di jalan pulang, kami ketemu dengan tukang sayur keliling yang jualan bawa mobil. Di mobil sayur itu ada bermacam sayur, buah, kerupuk, dan ikan-ikanan.

Desa Lawin yang jauh dari kota dan pesisir itu ternyata mengandalkan pedagang sayur keliling buat belanja sehari-hari. Untuk sayuran sebenarnya mereka bisa ngambil dari ladang sendiri. Tapi variasinya nggak banyak. Mayoritas sawah mereka ditanami padi aja.

Pedagang keliling itu ada di Desa selama dua sampai tiga hari. Tergantung kapan habisnya bahan. Kalau nggak habis-habis, ya bakal lama barangnya nggak diganti baru. Konsekuensinya, masyarakat dapat bahan makanan yang sudah kisut dan nggak segar lagi.

Pedagang sayur keliling

Ikan asap

Ikan yang bisa bertahan sampai tiga hari
Aneka ikan lain

Baca juga
Sumbawa Punya Cerita Day 1
Sumbawa Punya Cerita Day 2 Part 1
Sumbawa Punya Cerita Day 2 Part 2
Sumbawa Punya Cerita Day 3 Part 1
Sumbawa Punya Cerita Day 3 Part 2



Sumbawa Punya Cerita Day 2 Part 2

Sudah ku bilang berkali-kali. Enaknya jadi jurnalis adalah bisa jalan-jalan gratis. Bahkan ke tempat-tempat yang enggak pernah terbayang sebelumnya.

Sumbawa, 28 Oktober 2016

Hari itu, masih di jalanan terjal menuju Lawin. Bus dari Lebangkar berhenti di satu-satunya warung kopi sepanjang jalan. Kaget juga ada warung kopi di tempat yang nyaris kaya di dalam hutan.

Warungnya terbuat dari kayu. Ada papan menu yang sekilas tulisannya kupikir aksara jawa. Ternyata tulisan biasa yang diukir. Judul warungnya adalah Palondang City. Menunya nasi piring, nasi bungkus, kopi, susu, dan teh. Kami istirahat sambil ngopi-ngopi di sana.

Di belakang warung, ada sawah yang luaaaas banget. Dan, banyak kudanya! Seumur hidup baru kali ini aku lihat kuda di alam terbuka. Sumpah enggak bohong.

Hampir 15 menit kami istirahat di warung Palondang City. Karena takut kemalaman, akhirnya kami jalan lagi menerobos jalan terjal dengan segala aral rintangannya.

Warung kopi Palondang City

Ada nasi piring, ada nasi bungkus. Mau yang mana A'? in frame: Abang Fathul
Nggak berani naik, jadi selfie aja

Sampai senja, kami belum juga sampai tujuan. Jalanan masih sama terjalnya. Kami masih suka diminta turun bus agar bus bisa naik. Bahkan pas hari sudah malam, kami menemukan kubangan yang akhirnya membuat karung gerabah diturunkan. Jalannya bener-bener parah.

Senja di Sumbawa

Menebar gerabah di jalan belukar

Ini wajah jalan belukar yang udah ditebar gerabah
Pukul 19.00 WITA akhirnya kami sampai juga di Desa Lawin. Layaknya masyarakat adat, mereka sudah siap di pintu masuk desa untuk menyambut kami. Bendera-bendera, banner, dan tabit desa atau dukun berada di barisan depan balai adat. Kata si datuk, masyarakat sudah nunggu di sana sejak siang. Uuuu... terharuuu.

Sebenarnya kalau kami tiba di sana pas siang atau sore, ritual adat bakal digelar lengkap. Sebelum masuk, tamu akan dihadapkan dengan sejenis tampah berisi beras kuning dengan api di bawahnya. Nanti tampah itu akan diputar-putar di atas api untuk menentukan siapa tamu yang berhak masuk duluan. Tapi karena hari sudah malam dan tamunya bejibun, akhirnya kami cuma kebagian tradisi selonang syal, yaitu menyelempangkan kain syal masyarakat adat untuk menyambut tamu.

Setelah masing-masing orang dikalungin selendang selamat datang, kami pun masuk ke balai adat untuk mendengarkan sambutan dari Datuk Sukanda, kepala adat masyarakat Cek Bocek. Sebelum mulai acara, mereka lebih dulu main sekeco, alat musik tradisional yang bentuknya mirip gendang.


Berasa kaya orang penting pake disambut

Dikasi selendang selamat datang

Main sekeco sebelum acara dimulai
Seusai ritual penyambutan, kami dipersilakan makan malam. Aku lupa apa menunya saat itu. Yang jelas masakan mereka enak-enak semua. Bumbu rempahnya itu lho.. hmm... dahsyat pokoknya.

Udah kenyang, kami dikasi rumah. Maksudnya, kami dibagi-bagi ke rumah penduduk. Masing-masing rumah penduduk kebagian 2-4 tamu. Tergantung luas rumah dan banyaknya kamar. Aku kebagian serumah bareng Lusi dan Mbak Titi.

Begitu sudah masuk rumah, Lusi dan Mbak Titi langsung tewas. Sementara aku masih melek dan milih nonton tivi bareng pemilik rumah.

Yup, di Desa Lawin ini sudah masuk listrik sejak 10 tahun yang lalu. Tapi ya gitu, nggak 24 jam. Untuk sinyal seluler, jangan nanya. Sejak di jalan udah nggak ada. Kebayang enggak gimana hidupmu tanpa internet selama beberapa jam aja? Jangan dibayangin. Dicoba aja. Rasanya menyenangkan.


Baca juga
Sumbawa Punya Cerita Day 1
Sumbawa Punya Cerita Day 2 Part 1
Sumbawa Punya Cerita Day 2 Part 2
Sumbawa Punya Cerita Day 3 Part 1
Sumbawa Punya Cerita Day 3 Part 2



Sumbawa Punya Cerita Day 2 Part 1

Sumbawa, 28 Oktober 2016

Hari kedua di Sumbawa, saatnya lebih serius. Konferensi nasional AMAN yang dihadiri oleh puluhan advokat mulai pukul 10.00 WIB di aula hotel sebut saja Melati.

Konferensi itu membahas soal sengketa lahan antara masyarakat adat Sumbawa dengan pemerintah yang sudah menahun. Kalau bahas soal sengketa lahan, tentu nggak akan jauh-jauh dari diskriminasi, kriminalisasi, dan perampasan hak yang melibatkan perusahaan swasta. Apalagi Sumbawa punya tanah yang mengandung emas. Sudah kaya, jauh dari pantauan pusat. You know lah what happen.

Di tengah konferensi, si Lusi dateng. Hahaha. Akhirnya... Selain aku dan Lusi. Ada dua media lokal lain yang ikut meliput. Mereka adalah Munira dari Gaung NTB dan Fathul dari Lombok Post. Kita kenalan dan langsung akrab sebagai sesama wartawan. Lalu kami berfoto dan berjanji untuk keep contact sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Manis kan?


Dari kiri Aku, adeknya Munira, Munira, Lusi, Mbak Titi

Konferensi di Sumbawa Besar berlangsung sampai pukul 12.00 WITA. Agenda pembahasan advokasi bakal dilanjutkan di Desa Lawin, tempat tinggal masyarakat adat Cek Bocek Selesek Rensuri. Alasan ke sana adalah biar sekalian ngobrol dengan masyarakat yang mau diadvokasi dan tinjau lapang. Lokasinya ada di kaki bukit Dhodho, Kecamatan Ropang. Perjalanan dari Sumbawa Besar ke lokasi sekitar 4-5 jam.

Sebelum berangkat, aku, Mbak Titi, Lusi, Dian, dan Beauw makan sate di warung depan hotel. Satenya sih biasa aja. Tapi gulai kambingnya.. dahsyat! Rempahnya kerasa banget. Bikin nagih.

Jam 2 teng kita berangkat ke Lawin. Karena lokasi yang katanya ada di daerah pegunungan, aku sudah ngebayangin kita bakal dianter ke sana naik Hardtop. Ternyata enggak. Kita ke sana naik bus mini yang kalau di Jakarta seukuran Metromini. Dalamnya pun nggak jauh beda sama Metromini. Cuma tempat duduknya lebih empuk.

Ada tiga bus yang terparkir di halaman. Semua berwarna biru dengan corak merah, kuning, oranye, dan hijau. Di sisinya ada tulisan Bintang Selatan dan Putra Lebangkar. Kelak saat sampai di Desa, aku tahu kalau tiga bus ini adalah satu-satunya transportasi umum yang digunakan penduduk yang ingin pergi ke kota. Pemiliknya adalah seorang pedagang dari Desa Lebangkar.

Di bagian sisi pinggir atas bus di pasang besi sebagai ganti bagasi. Berkarung-karung gerabah ada di atas bus.
"Buat apa karung gerabah itu, Pak?" tanyaku pada sopir bus.
"Itu untuk ditebar di jalan. Biasanya kalau becek, bus nggak bisa naik ke atas karena licin," kata Pak sopir. Aku manggut-manggut.

Karung gerabah di atas bus

Penampakan di dalam bus

Narsisnya enggak boleh ketinggalan

Selama satu jam pertama, perjalanan berlangsung gembira. Meski empet-empetan, kami bahagia karena Sumbawa menyuguhkan landscape yang enak dipandang. Hijau dan biru sejauh mata memandang. Kotanya pun nggak macet. Suka lah pokoknya.

Tapi ketenangan itu tak berlangsung lama. Jalan terjal mulai menghadang begitu bus keluar dari kota. Jalan tak lagi aspal. Nggak cuma sekadar jalan berbatu, tapi jalannya juga naik. Beberapa kali bus seperti orang yang sedang mengejan. Bus kami pun sempat berjalan mundur semeter dua meter. Terhitung dua kali kami harus turun dulu untuk membiarkan bus naik ke tanah yang lebih datar.

Kondisi jalan yang luar biasa nggak rata itu pun bikin bus kami beberapa kali miring ke kanan atau ke kiri. Kalau sudah gitu, kami cuma bisa teriak-teriak sambil cari pegangan masing-masing.
"Kalau benar sumber daya alam itu untuk kepentingan rakyat, mestinya jalan ini sudah jadi permadani," celetuk salah satu penumpang. Penumpang lain yang denger cuma bisa ketawa hambar.

Kegaduhan di dalam bus berlangsung seterusnya. Suasana makin seru ketika memasuki sore hari. Kabut mulai turun. Hawa dingin menyusup. Landscape hijau dan biru berubah putih. Ngerih!

Jalan terjal tepi jurang


Kabut di mana-mana

Ada truk mogok bikin macet

Bang, jangan korbanin perasaan Eneng, Bang..


Sumbawa Punya Cerita Day 1

Tadinya aku mau menceritakan soal perjalanan ke Sumbawa pada akhir Oktober lalu setelah news storyku dimuat. Biar aku nggak perlu terlalu ribet menjelaskan complicated problem yang terjadi di sana dan bisa sekalian promosi tulisan. Tapi apalah daya. Ditinggal redaktur ke Thailand dan ini sudah mau berganti tahun. Sedang aku pinginnya perjalanan ini masuk menjadi catatan perjalanan di 2016.

Jadi, aku memutuskan untuk menuliskan sisi lain perjalanan aku di Sumbawa. Cerita-cerita nggak penting dibalik liputan sih sebenernya. Tapi lumayan seru kok. Seenggaknya buat pengingat aja kalau aku pernah ke Sumbawa. Hhe.

So, this is it..

***

Jakarta, 27 Oktober 2016

Hari ini aku ditugaskan untuk terbang ke Sumbawa buat ikut konferensi nasional Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Pesawat Garuda yang aku lupa nomor penerbangannya itu boarding pukul 05.30 WIB dari Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng. Malemnya udah was-was banget karena boardingnya harus jam lima banget. Sementara jarak kosan ke bandara adalah sejam tanpa macet. Tapi untungnya aku bisa sampai bandara 5 menit sebelum last check in.

Sampai bandara aku ketemu sama yang namanya Mbak Titi. Dia itu adalah staf media komunikasi di AMAN. Kami berdua ngopi di Starbucks sambil nunggu satu wartawan dari Mongabay, namanya Lusi.

Semua berjalan normal sampai kopi pesanan kami jadi. Eh, bukan kami. Aku pesan green tea latte. Mbak Titi yang pesan kopi. Sambil nyruput green tea, aku nyemil croissant isi tuna. Kami pun ngobrol ngalur ngidul sampai entah berapa menit berlalu.

Lalu, drama itu dimulai. Lusi tiba di bandara dan telepon Mbak Titi. Katanya dia nggak bisa check in. Aku cek jam ternyata emang udah setengah 6. Sambil nempelin handphone di kuping, Mbak Titi lari ninggalin aku yang masih makan croissant. Mukanya panik. Aku lihat dia keliling loket. Ternyata dia nggak tahu sama yang namanya Lusi. Shit! Aku cuma bisa duduk lempeng sambil nyruput green tea latte yang nggak dingin-dingin (croissantnya udah abis).

Nggak lama aku denger namaku dan Mbak Titi di pengumuman last call. Aku pun sigap menyelamatkan green tea latte yang masih penuh dan segera keluar Starbucks. Dari arah anggap saja timur, Mbak Titi lari tergopoh-gopoh. Mukanya pucet. "Si Lusi nggak ketemuuu!" katanya sambil lari ke arah anggap saja barat. Aku ikut lari di belakangnya.

Aku lihat Mbak Titi sibuk telepon-telepon orang buat ngabarin kalau ada satu wartawan yang nggak boleh check in.
"Gimana ini?"
"Apa aku tinggal di sini aja bareng dia?"
"Tapi kan sayang tiketnya hangus dua."
"Apa dia ikut penerbangan siang terus nginep dulu di Lombok?"
"Duh, nggak ngerti.."
Mbak Titi panik banget pokoknya.

Aku juga panik. Karena green tea latte aku yang masih penuh jadi tumpah-tumpah gara-gara kubawa lari. Antara sayang dan merasa direpotkan, akhirnya dengan sedih gelas green tea latte ukuran medium yang masih penuh itu aku tinggalin di atas tempat sampah terminal 3 Bandara Soetta.

Pesawat pun terbang tanpa Lusi dan green tea latte aku. Oh, wartawan malang. Oh, green tea latte..

Rute Jakarta Lombok ditempuh dalam waktu kurang lebih dua jam. Kami turun di Lombok cuma untuk transit. Sampai bandara, Mbak Titi ngasih kabar kalau penerbangan Lusi ditunda besok. Soalnya jadwal terbang ke Sumbawa hari itu udah nggak ada lagi.

Enggak sampai 15 menit, pesawat ke Sumbawa berangkat. Kami naik baling-baling. Karena pesawatnya kecil, turbulencenya kerasa banget. Sensasinya mirip naik Halilintar pas udah sampai atas di Dunia Fantasi. Lebay sih itu.

Awan-awan yang bikin turbulence

Pulau-pulau kecil yang nggak tahu namanya
Selfie is a must

Akhirnya sampai Bandara Sultan M Kaharuddin Sumbawa Besar pas jam 11. Kesan pertama begitu turun pesawat adalah... Sumbawa panas! Mataharinya cetar. Tapi langitnya biruuuu banget. Subhanallove.

Sampai Sumbawaaaa

Pas nunggu jemputan di bandara, aku baru ngeh kalau AMAN bawa rombongan banyak banget (pas di pesawat tadi kita duduknya mencar). Ada 20 orang kayaknya. Dan diantara rombongan itu, ada satu bule yang nyelip. Rambutnya pirang, pake tindik, short pants, bertato, jaket pink, koper ijo. Namanya Beauw (dibaca Bow). Dia adalah seorang relawan dari Australia yang udah ikut AMAN setahun ke belakang. Sdap!

Mobil jemputan kami mengantar sampai hotel sebut saja bernama Melati. Aku yang seharusnya sekamar sama Lusi jadi sekamar sama Mbak Titi karena Lusi saat itu mungkin sudah balik ke kamar kosnya di Jakarta.

Sebelum masuk kamar, aku sudah membayangkan buat mandi shower yang dingin, ngadem di kamar hotel yang ber-AC, dan nonton TV di layar LCD yang gede. Kata Mbak Titi, hari ini acaranya free, konferensi mulainya besok siang. Jadi setelah istirahat sebentar, sorenya kita bisa jalan-jalan ke pantai sambil nyari sunset di pantai-pantai Sumbawa. Mantap jiwa....

Tapi kesenangan itu lenyap secepat kedipan mata ngantuk. Di siang yang panas itu, listrik di hotel mati. Bye kamar yang dingin. Bye nonton TV yang ternyata bukan LCD dan enggak gede. Aku memilih tidur siang itu. Dan terbangun di sore hari yang hujan sangat deras sampai malam. Oke. Bye sunset di pantai Sumbawa yang nyahut.

Hari pertama di Sumbawa nggak berakhir sedih-sedih amat. Malamnya, Mbak Titi melipur kecewa hari itu dengan manggil taxi dan ngajak aku nongkrong di pantai bareng sama Derlin, Dian, dan Beauw. Kami menikmati mie ala Sumbawa yang aku lupa namanya, kopi, dan jus tomat di pinggir pantai yang gelap.



Sunset yang terlambat di Sumbawa

Baca juga
Sumbawa Punya Cerita Day 1
Sumbawa Punya Cerita Day 2 Part 1
Sumbawa Punya Cerita Day 2 Part 2
Sumbawa Punya Cerita Day 3 Part 1
Sumbawa Punya Cerita Day 3 Part 2


Thursday, 22 December 2016

Pulang ke Jember

Aku menghabiskan empat tahun masa kuliahku dengan tiga tahun pacaran dengan satu orang. Selanjutnya aku putus dan menghabiskan satu tahun berikutnya untuk berusaha move on. Hari ini aku kembali ke Jember setelah setahun di Jakarta. Dan rasanya seperti saat pertama kali pergi kencan. Debar di dada itu tak surut-surut bahkan ketika aku sudah beranjak.

Jember masih sama seperti terakhir kali kutinggalkan. Mungkin ada beberapa yang berubah. Seperti perasaan kita berdua. Atau kita bertiga. Bahkan bisa jadi kita semua. Tapi itu tidak penting. Aku tidak mau bermelankoli dengan kenangan kita. Toh kamu sudah mau menikah. Dan kamu tidak ada di Jember. Dan kamu masih tukang PHP. Meski aku masih suka deg-degan kalau ketemu kamu.

"Mbak, sudah tahu kabar terbaru?" kata adik tingkatmu. "Sudah tau dong. Dari orangnya langsung," ujarku. Kabar soal rencana pernikahanmu pasti sudah tersebar. Aku senang kau memberi tahuku secara langsung. Tapi sepertinya aku tidak bisa datang. Karena cutiku sudah habis kuambil bulan ini.

Hari ini sebenarnya aku berharap bisa ketemu kamu. Awalnya kamu adalah satu-satunya orang yang kukabari rencanaku ke Jember. Tapi lalu kamu lenyap. Tak memberiku kabar sampai aku pulang. Akhirnya aku memberi kabar seorang teman yang akhirnya mempertemukanku denganmu yang lain. Yang sepertinya tak pernah mengharapkan pertemuan itu terjadi.

Sampai pulang aku masih berharap ketemu kamu juga. Tapi sepertinya itu keinginan yang terlalu egois mengingat apa yang kulakukan padamu saat terakhir kali kita bertemu.

Aku pulang dalam keadaan luka dan ngantuk. Aku bangun pukul 03.00 WIB dan berangkat pukul 04.00 WIB. Lalu aku pulang setelah tak berhasil menemui entah apa dan siapa.

Kamu benar, rinduku belum tuntas. Dan tak akan pernah lunas. Karena dia terus bertambah setiap hari.

Sunday, 23 October 2016

Sopir Gojek

Hari ini saya ngikutin Mas Agus seharian. Bukan, bukan Agus Suprianto redaktur saya di desk ekonomi bisnis. Tapi Agus Yudhoyono anak sulungnya Pak Susilo Bambang Yudhoyono. Yup, bener! Mas Agus yang lagi nyalon jadi gubernur DKI itu loh.. Yang ganteng banget tapi sayang udah beristri.

Saya hari ini memang ditugaskan untuk meliput kegiatan Mas Agus seharian. Mulai dari Stadion Tugu, Jakarta Utara, Pasar Koja, sampai ke Jatiwaringin, Pondok Gede, Jakarta Timur. Kosan saya di Palmerah, Jakarta Barat. Jauh? Banget!

Berangkat pagi saya sudah kehujanan. Sampai lokasi saya terpaksa harus hujan-hujanan lagi karena acaranya outdoor dan tendanya kecil. Tapi nggakpapa, demi Mas Agus yang ganteng tapi sayang udah beranak, saya rela hujan-hujanan. Asal nanti bisa selfie sama Mas Agus. #eaaa

Saya nggak akan cerita soal Mas Agus hari ini. Saya sudah capek nulis soal dia dari pagi sampai malam. Kalau mau tahu hari ini dia ngapain aja, buka aja di Tempo.co (promosi banget). Saya sudah tulis lengkap mulai dia joget-joget di bawah rintik hujan deras, dia loncat dari panggung, sampai dia ganti baju di mobil. Eh, maaf, yang terakhir nggak saya tulis. Soalnya saya ingin itu jadi konsumsi pribadi saya. Hahaha.

Jadi saya akan bercerita soal Rahman, sopir Gojek yang mengantar saya pulang setelah seharian meliput Mas Agus tadi. Pak Rahman menjemput saya di Pacific Place, SCBD sekira pukul 18.00.

Sepanjang jalan, Pak Rahman mengajak saya ngobrol. Dia rupanya baru seminggu menjadi sopir Gojek. Ia dulunya adalah sales sejak 2008. Tapi karena setahun belakangan sepi pembeli, akhirnya dia beralih profesi jadi sopir Gojek. Laki-laki asal Cengkareng itu sedang ingin pulang. Pantes, dia ngambil orderan saya. Soalnya searah.

"Tadi ada yang mau ke Pondok Gede, nggak saya ambil. Kan saya mau pulang."
"Saya tadi dari Pondok Gede."
"Ngapain, Neng? Main?"
"Kerja, Pak."
"Muka manja gitu bisa kerja?"
Sialan

Lalu Pak Rahman nanya saya kerja apa. Saya jawab saya seorang reporter.
"Reporter sama wartawan itu beda ya?"
"Sama aja."
"Tadi ngeliput apa?"
"Ngikutin Agus Yudhoyono."
"Oh, anaknya SBY?"
"Iya."
"Ngapain diikutin?"
"Kan dia nyalon gubernur."
"Oh, dia nyalon gubernur?"
"Iya, kok nggak tahu sih? Emang Bapak mau milih siapa?"
"Rencananya sih Ahok. Soalnya dia bagus. Sejak dia jadi gubernur, perubahan di Jakarta kerasa banget. Nggak ada pejabat korupsi."

Saya diam saja. Barangkali saya sependapat dengan Pak Rahman. Ahok memang tegas dan keras menentang korupsi. Dia juga disiplin membuat lingkungan Jakarta bersih dan nyaman ditinggali. Saya mengakui ada banyak hal bagus yang dimiliki Ahok. Saya pun, yang kemarin sempat kecewa oleh Ahok, berkeras untuk tetap obyektif.  Bagaimanapun saya tidak ingin membiarkan setitik nila merusak susu sebelanga. Banyak nilai-nilai kebaikan yang dibawa mantan Bupati Belitung itu dibalik sikap arogannya.

"Sayang, dia non muslim."
"Tapi kan dia bersih."
"Iya, gara-gara pejabat nggak ada yang korupsi, mall jadi sepi."
"Apa hubungannya? Emang yang ke mall pejabat doang?"
"Ya nggak. Tapi kan sumber uangnya dari atas. Yang atas ngasih ke bawah."
"Tapi masa orang ke mall nunggu ada pejabat korupsi?"
"Jadi gini lo. Pejabat itu kan korupsi main proyek. Dia terus bangun rumah. Bahan-bahannya beli ke saya. Saya dapat uang terus ke mall deh. Gitu kan uangnya dari atas. Sekarang pejabatnya miskin."
"Bapak ikut miskin ya?"
"Iya, saya jadi bangkrut karena nggak ada yang belanja ke saya lagi."
"Jadi Bapak sedih nggak ada pejabat yang korupsi lagi?"
"Ya setengah-setengah sih. Hahaha."
"Hahaha."

Saya senang ngobrol dengan Pak Rahman. Setidaknya dia menyadarkan saya bahwa pemberdayaan manusia itu penting. Kota boleh saja nyaman ditinggali, asal penghuninya jangan tersesat dalam pikirannya sendiri. Senang dengan gubernur bersih, tapi juga sedih nggak ada pejabat yang korupsi. Gimana itu?

Akhirnya saya sampai di depan kantor Tempo dengan selamat. Saya minta turun di depan kantor Tempo karena kosan saya persis di depannya. Benar-benar cuma tinggal nyeberang jalan. Saya nggak mau Pak Rahman menurunkan saya di depan kosan karena Pak Rahman nantinya harus puter balik. Saya nggak mau dia nanti kehabisan bensin dan nyalahin saya karena dia jatuh miskin. Apa hubungannya? Nggak ada sih. Tapi saya yakin Pak Rahman bisa mencari benang merahnya.


Saturday, 22 October 2016

Tinggal di Desember

Aku mau Oktober segera berakhir dan November segera datang
Lalu aku ingin November juga lekas berlalu
Aku mau cepat-cepat bertemu Desember dan tak beranjak kemana-mana
Aku mau menunggumu tanpa harus bertambah tua